30 Oktober, 2010

Krakatau Dulu dan Kini

Krakatau Kini
Sejarah krakatau

Pada mulanya Pulau Krakatau besar yang biasa kita sebut dengan nama Gunung Krakatau adalah sebuah gunung (Gunung Krakatau purba) yang memiliki ketinggian sekitar 2000 mdpl dengan lingkaran pantainya sekitar 11 km dan radius sekitar 9 km2.


Namun ledakan dahsyat yang terjadi sekitar 416 M ini telah menghancurkan tiga perempat tubuh gunung tersebut dan menyisakan tiga pulau besar, yaitu Pulau Sertung, Pulau Rakata, dan Pulau Panjang, serta sebuah kaldera di tengah ketiga pulau tersebut. sebelum tahun 1883 muncullah dua buah gugusan gunung yang bernama Gunung danan dan gunung Perbuatan yang kemudian lam-kelamaan bersatu dengan Pulau rakata dan biasa disebut dengan Gunung Krakatau saja.

Pada tahun 1880, yang disebut masa strombolian, aktivitas vulkanis berlangsung selama beberapa bulan, dan Gunung Perbuatan aktif mengeluarkan lava. Setelah periode itu, tidak ada aktivitas vulkanis hingga akhirnya muncul tanda akan adanya letusan pada bulan Mei 1883.

Lalu pada tanggal 27 Agustus 1883 Gunung Krakatau meletus. Menurut catatan sejarah yang hingga kini selalu dipromosikan jajaran pariwisata Lampung, Gunung Krakatau meletus sangat dahsyat, menggemparkan dunia. semburan lahar dan abunya mencapai ketinggian 80 km. Sementara abunya mengelilingi bumi selama beberapa tahun. dilihat daru Amerika Utara dan Eropa, saat itu cahaya matahari tampak berwarna biru dan bulan tampak jingga (oranye).

Letusan gunung ini menghasilkan debu hebat yang mampu menembus jarak hingga 90 km. Letusan itu pun berdampak terjadinya gelombang laut sampai 40 m vertikal dan telah memakan korban sekitar 36.000 jiwa pada 165 desa baik di Lampung Selatan ataupun pada barat Jawa Barat. Dan karena letusannya itu telah melenyapkan Gunung Danan dan Perbuatan dari muka bumi dan menyisakan tiga pulau yaitu Pulau Panjang, Pulau Sertung, dan Pulau Rakata besar serta sebuahkaldera yang terletak di tengah ketiga pulau tersebut yang berdiameter 7 km.

Empat puluh tahun kemudian lahir keajaiban baru. Sekitar tahun 1927 para nelayan yang tengah melaut di Selat Sunda tiba-tiba terkejut. Kepulan asap hitam di permukaan laut menyembul seketika di antara tiga pulau yang ada, yaitu di kaldera bekas letusan sebelumnya yang dahsyat itu. Kemudian pada tanggal 29 desember 1929 sebuah dinding kawah muncul ke permukaan laut yang juga sebagai sumber erupsi. Hanya dua tahun setelah misteri kepulan asap di laut itu, kemudian muncullah benda aneh. "Wajah" asli benda aneh itu makin hari makin jelas dan ternyata itulah yang belakangan disebut Gunung Anak Krakatau.

Tapi misteri Gunung Anak Krakatau tidak sampai di situ. Gunung ini memiliki keunikan tersendiri, sebab gunung ini selalu menambahkan ketinggiannya sekitar satu senti tiap harinya. Gunung Anak Krakatau yang semula hanya beberapa meter saja, sekarang sudah dapat mencapai 230 mdpl dan sejak munculnya pada tahun1927. Gunung ini tercatat telah meletus sekitar 16 kali sejak Desember 1927 sampai Agustus 1930 dan 43 kali sejak 1931-1960 dan 13 kali sejak 1961-tahun 2000

Hampir 150 tahun berlalu, daerah dimana Krakatau berada di antara pulau Jawa dan Sumatra di kepulauan Indonesia telah berpopulasi lebih padat, dengan banyak petani kecil hingga kaya serta tanah vulkanis yang subur di daerah itu. Tak dapat dibayangkan bahwa ratusan ribu orang bisa tewas jika ada letusan besar lainnya.

Krakatau memiliki dampak yang luar biasa terhadap planet ini di masa yang lalu. Suhu rata-rata global menyusul ledakan tersebut telah turun sebanyak 1,2 celcius, ketika sejumlah besar gas dioksida belerang terpompa ke dalam atmosfer menghasilkan awan-awan yang merefleksikan lebih banyak cahaya yang datang dari matahari.
Badai api: Dalam suatu pertunjukan menarik lava pijar dan abu yang tercampur, Anak Krakatau menampakkan kekuatannya yang tersembunyi. Dalam beberapa tahun terakhir, letusan-letusan telah bertambah intensitasnya.

Kawah iblis: Letusan Krakatau menampakkan badai api ganas, menambah hawa ancaman.




Marco Fulle, 51, berasal dari Trieste, Italia, telah merekam gambar-gambar ini bulan lalu. Sebagai seorang ilmuwan, astronom dan ahli gunung berapi, Fulle telah memotret komet dan gunung berapi selama bertahun-tahun. Telah menghabiskan waktu berbulan-bulan untuk membangun portepel fotonya, Fulle secara unik mengambil tempat untuk mengabadikan amukan dan teror kebangkitan raksasa ini.

'Gunung berapi ini mengulang letusan-letusan seperti pada tahun 1883 beberapa kali selama hidupnya,' katanya. 'Pendapat umum bahwa Krakatau akan menjadi benar-benar berbahaya lagi ketika ia mencapai ukuran seperti pada tahun 1883. Waktu itu dua kali lebih tinggi dari dibanding sekarang.'

Kendati optimis, tidak ada jaminan bahwa letusan lainnya tidak akan segera muncul. Saat itu pagi tanggal 20 Mei 1883, ketika sebuah kapal Jerman, Elizabeth, melaporkan melihat adanya sebuah pilar abu dan asap yang muncul tujuh mil di atas pulau Krakatau.

Sudah dua abad sejak adanya letusan yang tepat. Selama bulan-bulan berikutnya asap, riuh dan kepulan debu terus berlanjut. Jauh dari menganjurkan penduduk setempat untuk mengosongkan daerah itu, pertunjukan kembang api alami ini mengakibatkan pesta.

Semuanya berubah setelah tengah hari di tanggal 26 Agustus, ketika serangkaian ledakan besar pertama mengirimkan tembakan puing-puing 22 mil ke udara. Kemudian, pada pukul 5.30 pagi hari berikutnya, empat letusan hebat telah menghempaskan dua pertiga dari pulau itu ke laut.

'Ada campuran kuat magma dan air laut yang membuat letusan itu begitu dahsyat,' kata Profesor Davidson. 'Air telah mengatur jalan masuk ke ruang magma dan akibatnya menghantam pulau itu berkeping-keping.'

Lima mil kubik batu apung, debu dan batu karang dimuntahkan keluar, sementara mega-letusan begitu kencang hingga terdengar sekitar 1.900 mil jauhnya di Perth, Australia Barat, dan 4.500 mil di Sri Lanka.

Mulanya setinggi 2.667 kaki, Krakatau telah runtuh hingga 820 kaki di bawah permukaan laut. Sekitar 4.500 orang tewas dan banyak desa hancur, namun yang jauh lebih mematikan adalah tsunami sesudahnya yang setinggi 130 kaki.

Di Jawa, gelombang menyebar cepat ke daratan. Lima mil dari pantai dekat kota Merak, seorang yang masih hidup menggambarkan momen ketika gelombang menghantam pada Senin pagi itu. 'Kami melihat sesuatu hitam besar datang menuju kami,' katanya. 'Tinggi sekali, dan kami segera melihat bahwa itu adalah air. Pohon-pohon dan rumah-rumah disapu bersih. Adalah kesulitan biasa untuk memanjat ke suatu tempat tertentu. Ini menyebabkan suatu halangan besar, dan satu demi satu mereka hanyut dan dibawa oleh air yang cepat.'

Lebih dari 90 persen dari orang-orang yang tewas oleh Krakatau meninggal dalam tsunami. Dalam tahun-tahun setelah letusan, daerah di sekitar Krakatau sepi. Akan tetapi, di tahun 1927, uap dan batu karang terlihat membuih di air, dan segera Anak Krakatau mulai muncul di permukaan laut.

Pada bulan November 2007, gunung berapi itu mulai meletus ganas lagi, namun para penduduk pulau itu berpikir bahwa mereka telah terlepas dari satu kemungkinan bencana lainnya ketika segala sesuatunya berjalan tenang di tahun sebelumnya.

Musim semi ini, bagaimanapun juga, Anak Krakatau mulai bergemuruh lagi. Letusan demi letusan telah menjadi begitu sengit menerangi awan-awan di atasnya dan menampakkan badai api yang beringas.

Beberapa orang, seperti Profesor Davidson, ragu-ragu mengenai kemungkinan letusan besar yang akan terjadi segera. 'Hanya belum cukup magma,' katanya. 'Daripada membuat prediksi seperti ini, adalah tanggung jawab ilmuwan untuk melakukan apa yang dapat mengurangi resiko bagi mereka yang hidup di sekitarnya. Itu adalah sesuatu yang kita benahi.'

Orang-orang di Selat Sunda hanya bisa berharap dan berdoa bahwa, kali ini, para ilmuwan adalah benar.
Ancaman: Pijaran bara api pada permukaan puncak yang baru saja aktif, menyebabkan penduduk setempat khawatir jika letusan lainnya akan segera datang.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Untuk kebaikan blog ini komentar anda aku tunggu