22 Desember, 2009

Mungkinkah Atlantis di Indonesia


Para sarjana terkemuka dunia baru-baru ini berkumpul di Roma untuk mendiskusikan sebuah ide kontroversial yang mengatakan bahwa Sardinia adalah pulau Atlantis yang hilang. Teori ini yang pertama kali disinggung dalam sebuah buku yang ditulis oleh jurnalis Italia bernama Sergio Frau telah menarik banyak perhatian dari masyarakat internasional, baik pujian ataupun kritikan.




Buku itu, walaupun telah terjual sebanyak 30.000 kopi, tetap dianggap para akademisi sebagai sebuah sensasi yang tidak ilmiah dan tidak berdasar. Namun teori ini mendapat perhatian besar tahun lalu ketika UNESCO mengorganisir sebuah simposium mengenai isu tersebut di Paris yang menyarankan agar ide tersebut mendapat pertimbangan serius. Kemudian setelah itu, Akademisi, arkeolog, geolog dan sejarawan dari seluruh Italia berkumpul di Rome's Accademia dei Lincei untuk meneliti teori tersebut lebih mendalam dan mendiskusikan kemungkinan penelitian lanjutan di masa depan.


Pulau Atlantis seperti diketahui adalah sebuah pulau misterius yang hingga kini keberadaannya belum diketahui secara pasti. Pulau ini pertama kali disinggung oleh filsuf Yunani Plato dalam bukunya Timaeus dan Critias (360 SM) yang mengatakan bahwa sebuah pulau dengan peradaban maju dihancurkan oleh sebuah bencana. Para ilmuwan menduga bahwa bencana yang dimaksud adalah Tsunami.



Teori tradisional menyebut bahwa Atlantis terletak di satu tempat di wilayah Atlantik karena Plato mengatakan bahwa pulau itu terletak di seberang Pilar Herkules. Menurut penulis Yunani kuno lainnya yang bernama Erathosthenes, pilar herkules terletak di selat Gibraltar.


Namun Frau percaya bahwa Erathosthenes, yang juga seorang pustakawan dan ahli geografi yang hidup di Alexandria pada abad kedua SM melakukan kesalahan. Frau percaya pilar Herkules terletak di Sisilia. Frau mendapat kesimpulan ini setelah melihat dua peta kuno Mediterania zaman perunggu. Satu peta menunjukkan Tunisia dan Sisilia hampir bersentuhan, peta yang lain yang menunjukkan Selat Gibraltar, dan keduanya menunjukkan kemiripan.


Frau berpikir bahwa Erathosthenes memindahkan pilar itu karena 120 tahun antara era Plato dan eranya, dunia Yunani berubah secara dramatis dan selat antara Sisilia dan Afrika sudah bukan merupakan bagian kerajaan Yunani. Lebih Lanjut, pergeseran geologis dan naiknya permukaan air laut memperlebar jarak antara Tunisia dan Sisilia yang akhirnya menjadi penyebab kesalahan Erathosthenes.


Jika Pilar Herkules terletak di Sisilia, maka Sardinia adalah lokasi pasti Atlantis. Frau menemukan juga bahwa peradaban Nuragic - berasal dari kata Nuraghes (menara batu) yang dibangun di pulau itu - berkembang dengan pesat di Shardana (sardinia) antara 1.400 - 1.200 SM. Bencana yang menghancurkan kebudayaan Nuragic dan penduduknya diperkirakan terjadi sekitar 1.178 - 1.175 SM.


Walaupun Plato menyebut kebudayaan Atlantis ada sekitar 9.000 tahun sebelumnya, banyak sejarawan berpikir bahwa Plato melakukan kesalahan dan mungkin maksudnya adalah 900 tahun. Mereka mendasarkan teorinya pada deskripsi Plato tentang tulisan dan perkakas perunggu yang disebut ditemukan di Pulau itu.


Lebih lanjut, apabila pilar herkules dipindahkan menjadi selat Sisilia, maka menurut Frau, banyak tulisan-tulisan kuno lainnya akan menjadi akurat dari segi geografis.


Contoh, Herodotus menulis mengenai Corsica dan kota kuno Tartessos seakan-akan kedua kota itu dekat satu sama lain. Namun jika pilar herkules terletak di Gibraltar, maka perjalanan dari Tartessos ke Corsica akan memakan waktu satu bulan dengan kapal, yang artinya tidak sesuai dengan deskripsi Herodotus.


Teori-teori keberadaan Atlantis


Kebanyakan dari lokasi yang diajukan mengenai keberadaan Atlantis adalah dekat laut Mediterania seperti pulau Sardinia, Kreta, Santorini, Sisilia, Siprus dan Malta. Sedangkan daratan lain yang dicurigai sebagai Atlantis adalah Troy, Tartessos, Tantalus, Turki, Sinai dan Kanaan. Di wilayah sekitar laut hitam juga dicurigai sebagai lokasi Atlantis, diantaranya Bosphorus dan Ancomah. Pada tahun 2003, sebuah teori baru diajukan bahwa laut Azov kemungkinan adalah tempat asal Atlantis.


Teori-teori lainnya juga menyebut tempat seperti Andalusia, pulau Canary, Kuba, Bahamas, segitiga Bermuda, Indonesia, Malaysia, pulau "Kumari Kandam" di India dan struktur piramida Yonaguni di Jepang.

Benarkah Indonesia adalah Atlantis yang hilang?

Atlantis, kita banyak mendengar tentang kota ini, yang konon memiliki peradaban yang sangat tinggi, tapi kemudian hilang karena ditelan bencana besar.
Legenda yang berkisah tentang “Atlantis”, pertama kali ditemui dalam karangan filsafat Yunani kuno: Dua buah catatan dialog Plato (427-347 SM) yakni: buku Critias dan Timaeus.
Beberapa hipotesis merupakan hipotesis arkeologi atau ilmiah, sementara lainnya berdasarkan fisika atau lainnya. Banyak tempat usulan yang memiliki kemiripan karakteristik dengan kisah Atlantis (air, bencana besar, periode waktu yang relevan), tetapi tidak ada yang berhasil dibuktikan sebagai kisah sejarah Atlantis yang sesungguhnya.
Kebanyakan lokasi yang diusulkan berada atau di sekitar Laut Tengah atau disekitar Laut Hitam. Beberapa hipotesis yang lain menyatakan Atlantis berada pada pulau yang telah tenggelam di Eropa Utara,atau di Laut Utara. Beberapa telah mengusulkan Al-Andalus atau Irlandia sebagai lokasi. Kepulauan Canary juga dinyatakan sebagai lokasi yang mungkin, sebelah barat selat Gibraltar tetapi dekat dengan Laut Tengah. Berbagai kepulauan di Atlantik juga dinyatakan sebagai lokasi yang mungkin, terutama Kepulauan Azores. Pulau Spartel yang telah tenggelam di selat Gibraltar juga telah diusulkan.
0976955008thumb


Hingga pada akhir th 2005, Prof. Arysio Santos yang menerbitkan buku yang menggemparkan : “Atlantis the Lost Continents Finally Found”.

Didalam buku tersebut, secara tegas dinyatakannya bahwa lokasi Atlantis yang hilang sejak kira-kira 11.600 tahun yang lalu itu adalah di Indonesia. Beliau menunjukkan perbandingan yang menunjukkan Indonesia adalah lokasi Atlantis yang hilang dibandingkan lokasi-lokasi perkiraan sebelumnya.
Dalam buku ini beliau membandingkan berdasarkan : Sistem irigasi, Keberadaan mammoth/gajah, Ukuran benua, Iklim Tropis, Keberadaan Kelapa dan Nanas, Konstruksi Megalitikum, Kekayaan tambang dan lain-lain (http://atlan.org/articles/checklist)
Ilmu yang digunakan  Santos dalam menelusur lokasi Atlantis ini adalah ilmu Geologi, Astronomi, Paleontologi, Archeologi, Linguistik, Ethnologi, dan Comparative Mythology.

Plato bercerita bahwa Atlantis adalah sebuah negara makmur dengan emas, batuan mulia, dan ‘mother of all civilazation’ dengan kerajaan berukuran benua yang menguasai pelayaran, perdagangan, menguasai ilmu metalurgi, memiliki jaringan irigasi, dengan kehidupan berkesenian, tarian, teater, musik, dan olahraga.

Warga Atlantis yang semula merupakan orang-orang terhormat dan kaya, kemudian berubah menjadi ambisius.  Para dewa kemudian menghukum mereka dengan mendatangkan banjir, letusan gunung berapi, dan gempa bumi yang sedemikian dahsyatnya sehingga menenggelamkan seluruh benua itu. Kisah-kisah sejenis atau mirip kisah Atlantis ini yang berakhir dengan bencana banjir dan gempa bumi, ternyata juga ditemui dalam kisah-kisah sakral tradisional di berbagai bagian dunia, yang diceritakan dalam bahasa setempat.
Menurut Santos, ukuran waktu yang diberikan Plato 11.600 tahun SM, secara tepat bersamaan dengan berakhirnya Zaman Es Pleistocene, yang juga menimbulkan bencana banjir dan gempa yang sangat hebat. Bencana ini menyebabkan punahnya 70% dari species mamalia yang hidup saat itu, termasuk kemungkinan juga dua species manusia : Neandertal dan Cro-Magnon.

Sebelum terjadinya bencana banjir itu, pulau Sumatera, pulau Jawa, Kalimantan dan Nusa Tenggara masih menyatu dengan semenanjung Malaysia dan benua Asia .

fig1
Gambar 1 : Atlantis
Sulawesi, Maluku dan Irian masih menyatu dengan benua  Australia dan terpisah dengan Sumatera dan lain-lain itu. Kedua kelompok pulau ini dipisahkan oleh sebuah selat yang mengikuti garis ‘Wallace’.

Posisi Indonesia terletak pada 3 lempeng tektonis yang saling menekan, yang menimbulkan sederetan gunung berapi mulai dari Sumatera, Jawa, Nusa Tenggara, dan terus ke Utara sampai ke Filipina yang merupakan bagian dari ‘Ring of Fire’. Hingga terjadinya letusan gunung berapi secara berurutan, yang menyebabkan melelehnya lapisan es dan menimbulkan gempa dan tsunami yang menenggelamkan dataran rendah.
Benarkah hypothesis itu?? Dengan kecanggihan teknologi saat ini, yang memungkinkan pencarian di kedalaman laut, kebenaran seluruh hypothesis yang pernah ada tentang Atlantis mungkin akan segera terungkap..
Bagaimana menurut anda? Benarkah bangsa Indonesia adalah keturunan bangsa Atlantis yang terselamatkan??
Tidak ada artikel terkait.

 lmuwan Klaim Temukan Kota Hilang Atlantis

Seorang peneliti Amerika hari Minggu lalu (14/11), mengklaim dirinya telah menemukan sisa-sisa kota hilang Atlantis di dasar Laut Mediterania timur, namun kepala arkeologi Cyprus meragukannya.

Robert Sarmast, peneliti itu, mengatakan sonar yang dipakai menyisir dasar laut 80 kilometer tenggara Cyprus telah menandai adanya dinding-dinding buatan manusia, salah satunya sepanjang 3 kilometer, dan parit-parit pada kedalaman 1.500 meter.

"Adalah suatu keajaiban bahwa kami menemukan dinding-dinding yang lokasi dan panjangnya sama dengan deskripsi Plato dalam tulisannya mengenai kota Atlantis," kata Sarmast, merujuk pada filsuf Yunani yang terkenal itu.

Mengenai pernyataan di atas, pimpinan arkeolog Cyprus, Pavlos Flourentzos, menanggapi skpetis. Dikatakannya, klaim Sarmast itu haruslah didukung lebih banyak bukti.

Sarmast, 38, adalah seorang arsitek dari Los Angeles. Ia mengabdikan 2,5 tahun waktunya untuk mencari kota hilang Atlantis yang dijelaskan dalam dialog Plato, ’the Timaeous and the Critias.’

Dengan kapal ekspedisi "Flying Enterprise," ia meneliti wilayah itu berdasar data sonar sebelumnya yang didapat dari ekspedisi Rusia dan Prancis. Kini ia melakukan ekspedisi menggunakan peralatan yang lebih canggih.

"Kami menemukan lebih dari 60 hingga 70 titik yang cocok dengan deskripsi Plato mengenai lay out umum bukit acropolis Atlantis. Kecocokan dimensi dan koordinat ini sangat tepat, sehingga bila ini bukan acropolis Atlantis, maka ini pastilah kebetulan yang luar biasa," katanya.

Lebih lanjut dikatakannya, bagian dasar laut di sana juga menunjukkan lokasi itu dahulu pernah berada di atas permukaan laut. "Namun kami belum bisa memberi bukti dalam bentuk sisa bangunan karena ia masih terkubur beberapa meter di bawah dasar laut," ujar Sarmast.

Perlu diketahui, Plato dahulu menuliskan bahwa Atlantis adalah sebuah pulau di laut barat, yang secara luas diinterprestasikan sebagai Samudra Atlantik. Sebuah gempa hebat meneggelamkan pulau itu beserta kota di atasnya.

Menurut Plato, saat itu Atlantis merupakan kota berkebudayaan tinggi, dan dalam legenda, ia dihubungkan dengan suatu negara yang sejahtera. Filsuf Inggris, Francis Bacon, dalam bukunya tahun 1627 juga menyebut-nyebut negara Atlantis yang ideal.

Karena cerita-cerita yang menyelimutinya, banyak orang mempercayai keberadaan Atlantis dan berusaha mencarinya. Pimpinan arkeolog Cyprus sendiri, Flourentzos, mengatakan memang mungkin Atlantis berada di sekitar Cyprus.

"Mitos Atlantis telah beredar sejak berabad-abad dan dipercaya secara luas, bila memang pernah ada, ia berada di sekitar Samudra Atlantik. Namun peradaban dan kota-kota kuno di wilayah Mediterania seperti Minoan, telah lenyap akibat letusan gunung api dan gempa bumi. Maka Atlantis yang berada di sekitar sini mungkin mengalami nasib serupa," katanya.

teknologinya digambarkn seperti ini..

tata kota dilukiskan sperti ini...

Benua Atlantis itu Indonesia ....?

 

atlantis-indonesia-map-3.jpg MUSIBAH alam beruntun dialami Indonesia. Mulai dari tsunami di Aceh
hingga yang mutakhir semburan lumpur panas di Jawa Timur. Hal itu
mengingatkan kita pada peristiwa serupa di wilayah yang dikenal
sebagai Benua Atlantis. Apakah ada hubungan antara Indonesia dan
Atlantis?

Plato (427 – 347 SM) menyatakan bahwa puluhan ribu tahun lalu terjadi
berbagai letusan gunung berapi secara serentak, menimbulkan gempa,
pencairan es, dan banjir. Peristiwa itu mengakibatkan sebagian
permukaan bumi tenggelam. Bagian itulah yang disebutnya benua yang
hilang atau Atlantis.
atlantis-indonesia-map.jpgPenelitian mutakhir yang dilakukan oleh Aryso Santos, menegaskan bahwa
Atlantis itu adalah wilayah yang sekarang disebut Indonesia. Setelah
melakukan penelitian selama 30 tahun, ia menghasilkan buku Atlantis,
The Lost Continent Finally Found, The Definitifve Localization of
Plato’s Lost Civilization (2005). santos-atlantis.jpgSantos menampilkan 33 perbandingan,
seperti luas wilayah, cuaca, kekayaan alam, gunung berapi, dan cara
bertani, yang akhirnya menyimpulkan bahwa Atlantis itu adalah
Indonesia. Sistem terasisasi sawah yang khas Indonesia, menurutnya,
ialah bentuk yang diadopsi oleh Candi Borobudur, Piramida di Mesir,
dan bangunan kuno Aztec di Meksiko.
Konteks Indonesia
Bukan kebetulan ketika Indonesia pada tahun 1958, atas gagasan Prof.
Dr. Mochtar Kusumaatmadja melalui UU no. 4 Perpu tahun 1960,
mencetuskan Deklarasi Djoeanda. Isinya menyatakan bahwa negara
Indonesia dengan perairan pedalamannya merupakan kesatuan wilayah
nusantara. Fakta itu kemudian diakui oleh Konvensi Hukum Laut
Internasional 1982. Merujuk penelitian Santos, pada masa puluhan ribu
tahun yang lalu wilayah negara Indonesia merupakan suatu benua yang
menyatu. Tidak terpecah-pecah dalam puluhan ribu pulau seperti halnya
sekarang.
Santos menetapkan bahwa pada masa lalu itu Atlantis merupakan benua
yang membentang dari bagian selatan India, Sri Lanka, Sumatra, Jawa,
Kalimantan, terus ke arah timur dengan Indonesia (yang sekarang)
sebagai pusatnya. Di wilayah itu terdapat puluhan gunung berapi yang
aktif dan dikelilingi oleh samudera yang menyatu bernama Orientale,
terdiri dari Samudera Hindia dan Samudera Pasifik.
Teori Plato menerangkan bahwa Atlantis merupakan benua yang hilang
akibat letusan gunung berapi yang secara bersamaan meletus. Pada masa
itu sebagian besar bagian dunia masih diliput oleh lapisan-lapisan es
(era Pleistocene) . Dengan meletusnya berpuluh-puluh gunung berapi
secara bersamaan yang sebagian besar terletak di wilayah Indonesia
(dulu) itu, maka tenggelamlah sebagian benua dan diliput oleh air asal
dari es yang mencair. Di antaranya letusan gunung Meru di India
Selatan dan gunung Semeru/Sumeru/ Mahameru di Jawa Timur. Lalu letusan
gunung berapi di Sumatera yang membentuk Danau Toba dengan pulau
Somasir, yang merupakan puncak gunung yang meletus pada saat itu.
Letusan yang paling dahsyat di kemudian hari adalah gunung Krakatau
(Krakatoa) yang memecah bagian Sumatera dan Jawa dan lain-lainnya
serta membentuk selat dataran Sunda.
Atlantis berasal dari bahasa Sanskrit Atala, yang berarti surga atau
menara peninjauan (watch tower), Atalaia (Potugis), Atalaya (Spanyol).
Plato menegaskan bahwa wilayah Atlantis pada saat itu merupakan pusat
dari peradaban dunia dalam bentuk budaya, kekayaan alam,
ilmu/teknologi, dan lain-lainnya. Plato menetapkan bahwa letak
Atlantis itu di Samudera Atlantik sekarang. Pada masanya, ia
bersikukuh bahwa bumi ini datar dan dikelilingi oleh satu samudera
(ocean) secara menyeluruh.
Ocean berasal dari kata Sanskrit ashayana yang berarti mengelilingi
secara menyeluruh. Pendapat itu kemudian ditentang oleh ahli-ahli di
kemudian hari seperti Copernicus, Galilei-Galileo, Einstein, dan
Stephen Hawking.
Santos berbeda dengan Plato mengenai lokasi Atlantis. Ilmuwan Brazil
itu berargumentasi, bahwa pada saat terjadinya letusan berbagai gunung
berapi itu, menyebabkan lapisan es mencair dan mengalir ke samudera
sehingga luasnya bertambah. Air dan lumpur berasal dari abu gunung
berapi tersebut membebani samudera dan dasarnya, mengakibatkan tekanan luar biasa kepada kulit bumi di dasar samudera, terutama pada pantaibenua. Tekanan ini mengakibatkan gempa. Gempa ini diperkuat lagi oleh
gunung-gunung yang meletus kemudian secara beruntun dan menimbulkan
gelombang tsunami yang dahsyat. Santos menamakannya Heinrich Events.
Dalam usaha mengemukakan pendapat mendasarkan kepada sejarah dunia,
tampak Plato telah melakukan dua kekhilafan, pertama mengenai
bentuk/posisi bumi yang katanya datar. Kedua, mengenai letak benua
Atlantis yang katanya berada di Samudera Atlantik yang ditentang oleh
Santos. Penelitian militer Amerika Serikat di wilayah Atlantik
terbukti tidak berhasil menemukan bekas-bekas benua yang hilang itu.
Oleh karena itu tidaklah semena-mena ada peribahasa yang berkata,
“Amicus Plato, sed magis amica veritas.” Artinya,”Saya senang kepada
Plato tetapi saya lebih senang kepada kebenaran.”
Namun, ada beberapa keadaan masa kini yang antara Plato dan Santos
sependapat. Yakni pertama, bahwa lokasi benua yang tenggelam itu
adalah Atlantis dan oleh Santos dipastikan sebagai wilayah Republik
Indonesia. Kedua, jumlah atau panjangnya mata rantai gunung berapi di
Indonesia. Di antaranya ialah Kerinci, Talang, Krakatoa, Malabar,
Galunggung, Pangrango, Merapi, Merbabu, Semeru, Bromo, Agung, Rinjani.
Sebagian dari gunung itu telah atau sedang aktif kembali.
Ketiga, soal semburan lumpur akibat letusan gunung berapi yang abunya
tercampur air laut menjadi lumpur. Endapan lumpur di laut ini kemudian
meresap ke dalam tanah di daratan. Lumpur panas ini tercampur dengan
gas-gas alam yang merupakan impossible barrier of mud (hambatan lumpur
yang tidak bisa dilalui), atau in navigable (tidak dapat dilalui),
tidak bisa ditembus atau dimasuki. Dalam kasus di Sidoarjo, pernah
dilakukan remote sensing, penginderaan jauh, yang menunjukkan adanya
sistim kanalisasi di wilayah tersebut. Ada kemungkinan kanalisasi itu
bekas penyaluran semburan lumpur panas dari masa yang lampau.
Bahwa Indonesia adalah wilayah yang dianggap sebagai ahli waris
Atlantis, tentu harus membuat kita bersyukur. Membuat kita tidak
rendah diri di dalam pergaulan internasional, sebab Atlantis pada
masanya ialah pusat peradaban dunia. Namun sebagai wilayah yang rawan
bencana, sebagaimana telah dialami oleh Atlantis itu, sudah saatnya
kita belajar dari sejarah dan memanfaatkan perkembangan ilmu
pengetahuan mutakhir untuk dapat mengatasinya. ***
Penulis, Direktur Kehormatan International Institute of Space Law
(IISL), Paris-Prancis

Benua Atlantis &nPeradaban Awal Umat Manusia Ada di Indonesia ?



– Para peneliti AS menyatakan bahwa Atlantis is Indonesia. Hingga kini cerita tentang benua yang hilang ‘Atlantis’ masih terselimuti kabut misteri. Sebagian orang menganggap Atlantis cuma dongeng belaka, meski tak kurang 5.000 buku soal Atlantis telah ditulis oleh para pakar.
Bagi para arkeolog atau oceanografer moderen, Atlantis tetap merupakan obyek menarik terutama soal teka-teki dimana sebetulnya lokasi sang benua. Banyak ilmuwan menyebut benua Atlantis terletak di Samudera Atlantik.
Sebagian arkeolog Amerika Serikat (AS) bahkan meyakini benua Atlantis dulunya adalah sebuah pulau besar bernama Sunda Land, suatu wilayah yang kini ditempati Sumatra, Jawa dan Kalimantan. Sekitar 11.600 tahun silam, benua itu tenggelam diterjang banjir besar seiring berakhirnya zaman es.



”Para peneliti AS ini menyatakan bahwa Atlantis is Indonesia,” kata Ketua Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Prof Umar Anggara Jenny, Jumat (17/6), di sela-sela rencana gelaran ‘International Symposium on The Dispersal of Austronesian and the Ethnogeneses of the People in Indonesia Archipelago, 28-30 Juni 2005.
Kata Umar, dalam dua dekade terakhir memang diperoleh banyak temuan penting soal penyebaran dan asal usul manusia. Salah satu temuan penting ini adalah hipotesa adanya sebuah pulau besar sekali di Laut Cina Selatan yang tenggelam setelah zaman es.
Hipotesa itu, kata Umar, berdasarkan pada kajian ilmiah seiring makin mutakhirnya pengetahuan tentang arkeologimolekuler. Tema ini, lanjutnya, bahkan akan menjadi salah satu hal yang diangkat dalam simposium internasional di Solo, 28-30 Juni.
Menurut Umar, salah satu pulau penting yang tersisa dari benua Atlantis — jika memang benar — adalah Pulau Natuna, Riau. Berdasarkan kajian biomolekuler, penduduk asli Natuna diketahui memiliki gen yang mirip dengan bangsa Austronesia tertua.

Bangsa Austronesia diyakini memiliki tingkat kebudayaan tinggi, seperti bayangan tentang bangsa Atlantis yang disebut-sebut dalam mitos Plato. Ketika zaman es berakhir, yang ditandai tenggelamnya ‘benua Atlantis’, bangsa Austronesia menyebar ke berbagai penjuru.
Mereka lalu menciptakan keragaman budaya dan bahasa pada masyarakat lokal yang disinggahinya dalam tempo cepat yakni pada 3.500 sampai 5.000 tahun lampau. Kini rumpun Austronesia menempati separuh muka bumi.
Ketua Ikatan Ahli Arkeologi Indonesia (IAAI), Harry Truman Simanjuntak, mengakui memang ada pendapat dari sebagian pakar yang menyatakan bahwa benua Atlantis terletak di Indonesia. Namun hal itu masih debatable.
Yang jelas, terang Harry, memang benar ada sebuah daratan besar yang dahulu kala bernama Sunda Land. Luas daratan itu kira-kira dua kali negara India. ”Benar, daratan itu hilang. Dan kini tinggal Sumatra, Jawa atau Kalimantan,” terang Harry. Menurut dia, sah-sah saja para ilmuwan mengatakan bahwa wilayah yang tenggelam itu adalah benua Atlantis yang hilang, meski itu masih menjadi perdebatan.



Dominasi Austronesia Menurut Umar Anggara Jenny, Austronesia sebagai rumpun bahasa merupakan sebuah fenomena besar dalam sejarah manusia. Rumpun ini memiliki sebaran yang paling luas, mencakup lebih dari 1.200 bahasa yang tersebar dari Madagaskar di barat hingga Pulau Paskah di Timur. Bahasa tersebut kini dituturkan oleh lebih dari 300 juta orang.
”Pertanyaannya dari mana asal-usul mereka? Mengapa sebarannya begitu meluas dan cepat yakni dalam 3500-5000 tahun yang lalu. Bagaimana cara adaptasinya sehingga memiliki keragaman budaya yang tinggi,” tutur Umar.
Salah satu teori, menurut Harry Truman, mengatakan penutur bahasa Austronesia berasal dari Sunda Land yang tenggelam di akhir zaman es. Populasi yang sudah maju, proto-Austronesia, menyebar hingga ke Asia daratan hingga ke Mesopotamia, mempengaruhi penduduk lokal dan mengembangkan peradaban. ”Tapi ini masih diperdebatan








Diskusikan artikel ini di dalam forum

Catatan: cataclysms api dan air di seluruh dunia sejauh yang kita berbicara dalam esai ini secara ketat ilmiah. Mereka banyak dibuktikan dalam catatan geologis, yang umumnya diterima oleh Geologi modern. Jadi adalah kepunahan besar-besaran segala macam spesies, dan terutama dari mamalia besar yang terjadi pada akhir Pleistocene Ice Age, sekitar 11.600 tahun yang lalu. Sekitar 70% dari bekas jenis mamalia besar yang ada di bekas punah era lalu, termasuk, dalam segala kemungkinan, dua jenis manusia, Neandertals dan Cro-Magnons, yang menjadi punah lebih atau kurang di zaman ini.

Hanya mekanisme akhir Pleistocene Ice Age - yang merupakan fakta tertentu, tetapi sejauh ini tidak dapat dijelaskan oleh Sains - yang baru dan kita sendiri. Kami mengusulkan bahwa peristiwa dramatis ini disebabkan oleh ledakan besar dari gunung berapi Krakatau (atau mungkin yang lain), yang membuka Selat Sunda, memisahkan pulau Jawa dan Sumatra, di Indonesia.

[Catatan kaki: Teks ini ditulis sekitar sepuluh tahun yang lalu, dan baru sekarang sedang direvisi dan diperbarui (Jan. 2002). Banyak dari menemukan dan prediksi empiris baru saja dikonfirmasi oleh Sains sejak, lalu. Salah satu adalah konfirmasi dramatis keberadaan raksasa yang sekarang cekung benua di selatan Asia Tenggara dan Cina, persis seperti yang diperkirakan oleh diri kita sendiri. Konfirmasi ini didapatkan oleh satelit mata-mata NASA yang NOAA, dan hanya baru-baru ini declassified, seperti yang kita komentar di situs ini. Selain itu, seperti sekarang kita bahas, bentuk dan fitur yang tepat diramalkan oleh diri kita sendiri pada dasar yang sama sekali berbeda (bathymetrik soundings).

Fakta penting lainnya adalah penemuan bahwa tanggal bencana yang menyebabkan akhir Pleistocene Ice Age - sangat mungkin sebuah Heinrich Event, seperti yang dengan cepat menjadi jelas - tidak hanya tiba-tiba dan brutal, tetapi terjadi pada tanggal ditetapkan oleh Plato, bahwa dari 11.600 tahun yang lalu. Jadi, tampaknya filsuf tua benar setelah semua, meskipun fakta bahwa ilmuwan masih gigih menolak untuk percaya pada realitas bencana banjir. Sifat dari bencana yang menyebabkan akhir Pleistocene Ice Age - Heinrich Kegiatan yang baru saja disebutkan - juga tampaknya menjadi hasil dari peristiwa preconized oleh diri kita sendiri sekitar 20 tahun yang lalu, yaitu hasil dari invasi maritim raksasa yang disebabkan oleh raksasa tsunami, mereka sendiri disebabkan oleh letusan supervolcanic peledak, seperti yang dibahas dalam teks ini.

Para ilmuwan belum menyadari penyebab sebenarnya Heinrich Events, tapi saya yakin mereka segera akan, ketika mereka menyadari ketidakmungkinan mengucapkan mekanisme sekarang memegang telah bertanggung jawab untuk mereka: terbuka melanggar danau raksasa dibendung oleh gletser sendiri. Seperti beberapa pakar geologi dicatat telah berkomentar, damming ini tidak mungkin untuk beberapa alasan, salah satunya kurangnya resistensi mekanis pada bagian mereka. Pengurangan gletser Albedo oleh endapan jelaga juga telah diusulkan sebagai penyebabnya, seperti kita memprediksikan itu akan. Dengan kata lain, meskipun tidak ada nabi, prediksi kami ternyata cukup akurat. Pada kenyataannya, mereka yang jelas pada ditinjau kembali, karena mereka begitu logis. Dan mereka, meskipun non-kanonik, semua sangat ilmiah, karena saya sendiri seorang ilmuwan profesional, dan cukup digunakan untuk melakukan ilmu pengetahuan, konvensional atau tidak. Pada waktunya, teori saya akan menciptakan paradigma baru bagi Sains dan Agama yang tampaknya pada kedatangan milenium baru ini kita. Ini adalah sedikit pedih Namun, untuk menjadi semacam Cassandra, ditakdirkan menjadi kafir dengan satu dan semua, meskipun kebenaran nubuat saya. Domine, non sum dignus.]

Ledakan raksasa ini dibuktikan secara luas di berbagai mitos dan tradisi seperti tentang Atlantis dan Paradise, memang terletak di daerah ini di dunia. Hal ini universal dikenang sebagai ledakan Gunung surga (= Mat. Krakatau, Atlas, Sinai, Zion, Alborj, Qaf, Golgotha, Meru, dsb) dan banjir yang ditimbulkannya, di mana mereka semua berbicara obsesif sebagai universal Universal Banjir dan kebakaran besar.

krakatoaThe tsunami ledakan Gunung. Krakatau menyebabkan tsunami raksasa, yang melanda dataran rendah Atlantis dan Lemuria. Hal ini juga memicu akhir Zaman Es terakhir dengan menutupi gletser kontinental dengan lapisan jelaga (fly ash) yang dipercepat pencairan mereka dengan meningkatkan penyerapan sinar matahari. Tsunami raksasa itu disebabkan juga berdampak pada invasi maritim yang mengelilingi benua Pasifik dan, di atas semua, dari wilayah Antartika. Hasilnya adalah bahwa gletser itu melayang oleh penyerang perairan dan dibawa kembali ke laut, ketika air ini kembali ke sana. Proses ini baru-baru ini dikonfirmasi oleh penelitian geologi dan oseanografi, dan disebut Heinrich Events. Ini adalah bencana yang terkait dengan akhir Zaman es Pleistosen, dan tiba-tiba dan brutal.

imageskutubselatanThe meltwaters gletser ini - tertutup oleh jelaga atau dibawa pergi sebagai gletser dan banquises - mengalir ke lautan, menaikkan permukaan laut sekitar 100-150 meter. Besar ini kenaikan permukaan laut yang luar biasa menciptakan ketegangan dan tekanan dalam kerak bumi karena berat ekstra pada dasar laut dan isostatic rebound dari benua, dikurangi dari berat kolosal mil-gletser yang tebal menyelimuti mereka sebelumnya. Kerak kemudian retak terbuka di titik-titik lemah, melahirkan lebih lanjut letusan gunung berapi, dan gempa bumi dan tsunami lebih lanjut yang fedback (positif) proses, melanjutkan itu sampai selesai. Hasilnya adalah akhir dramatis Pleistocene Ice Age dan apa yang disebut Kuarter kepunahan yang kami sebutkan di atas.

pengenalan

Semua bangsa, dari semua waktu, percaya adanya primordial surga di mana Manusia berasal dan mengembangkan peradaban kepalan pernah. Cerita ini, nyata dan benar, yang diceritakan dalam Alkitab dan kitab suci Hindu seperti Rig Veda, Purana dan banyak lainnya. Bahwa surga terletak "ke arah Timur" tidak ada keraguan, kecuali beberapa orang yg keras berkeras ilmuwan yang berpendapat bahwa peradaban yang berbeda yang dikembangkan secara independen dari satu sama lain bahkan tidak sedemikian, akhir tempat-tempat seperti Eropa, Amerika atau tengah Atlantik Ocean. Ini, meskipun sangat banyak bukti yang bertentangan telah dikembangkan dari dasarnya semua bidang ilmu-ilmu manusia, terutama yang antropologi. Hal ini terutama pada orang-orang yang kita mendasarkan argumen yang mendukung realitas murni sumber peradaban manusia secara tradisional disebut Atlantis atau Eden, dll.

[Catatan kaki: Kami menekankan, sekali lagi, bahwa teori kita, meskipun orang-orang reembling dangkal dari teosof, yang Velikovskians, Kutub-Shiftists dan anak, tidak ada hubungannya dengan mereka, karena mereka semua sangat ilmiah dan didirikan pada kenyataannya, agak daripada agama atau Tradisi sendirian. Teosof memperoleh kebijaksanaan mereka dari Mme. Blavatsky, seorang wanita Rusia, yang pada tahun 1860-an pindah ke India, di mana ia mendirikan The Theosophical Society, yang memiliki banyak pengikut di kalangan para intelektual waktu. Blavatsky adalah orang yang sangat intelligient, dan segera mengumpulkan massa yang besar sekali pengetahuan tentang Hindu dan tradisi esoterik lainnya, yang diterbitkan dalam buku-buku seperti The Secret Ajaran dan Tabir Isis, yang menjadi sangat populer, bahkan hari ini. Tapi tulisannya tampak sebuah versi tercerna esoteris ajaran Buddhisme, Hindu, dan agama-agama lain dan doktrin Occult, bercampur dengan beberapa pseudo-ilmu yang dia diperoleh dari buku-buku teks geologi waktu itu, yang akan allprove salah dalam perjalanan waktu.

Pole Shift adalah semata-mata tidak ilmiah tidak bumcombe yang menampung air. Tidak mungkin pada kedua physicaland geologi dasar, seperti yang kita elewhere menjelaskan secara rinci. Ide-ide ini awalnya ppularized oleh Charles Hapgood, dan bertahan di penulis-penulis seperti John White dan Graham Hancock. Alih-alih ilmuwan, penulis ini adalah wartawan, yang spesialisasinya justru render diterima kepada publik apa yang biasanya kebohongan dan propaganda pemerintah. Putih memiliki - dan memang sebagian besar pendukung seperti teori, termasuk Hapgood - publik menarik kembali dari mantan pandangan mengenai PoleShift, yang mengakui henow sebagai konsep unscienific. Graham Hancock Kami berharap akan segera melakukan hal yang sama, terutama karena ia sekarang menjatuhkan Antartika proposalof Atlantis, mendukung hipotesis kita sendiri dari Far Eastern satu.

Velikovsky adalah salah satu karakter yang tidak biasa. Seorang Yahudi Rusia dan imigran ke Amerika Serikat, buku-bukunya menjadi menyenangkan semua orang yang ingin tahu, di tahun 1950-an, ada ketidakpuasan dengan obscurities of Academic Science. Di antara semua ini, aku harus dihitung, sebagai buku-buku membuka mata saya kepada inkonsistensi teori seperti Geologi Uniformitarian Darwin dan teorinya ofEvolution, justru ini berdasarkan premis palsu. Masalah Velikovsky mengambil peristiwa bencana, ia mengusulkan sebagai kebenaran harfiah. Selain itu, sebagai seorang Yahudi ortodoks, juga percaya Velikovsky tanggal dan peristiwa-peristiwa dalam Alkitab - ridiculously kecil menurut standar geologi - untuk menjadi fakta-fakta sebenarnya yang harus secara implisit percaya oleh semua. Tentu saja, sebagian besar proposal terbukti salah, excpt sejauh Catastrophism tampaknya memang menjadi salah satu fitur penting tidak hanya Evolusi, tetapi juga dari geologi, berbeda dengan apa yang Drawin dan Lyell begitu tegas membantah. Tapi buku-bukunya - seperti yang dari Blavatsky dan bahkan Graham Hancock membaca yang baik bahkan sekarang ini, selama mereka dianggap apa yang mereka benar-benar terdapat: menyenangkan Sci Fi, berdasarkan dicerna sakit-pseudo-Science.
] Saat itu di Timur, dan seterusnya, bahwa pertanian (beras dan biji-bijian) dan domestikasi hewan diciptakan. Kedua penemuan penting diperbolehkan Man's fiksasi ke tanah, dan kemakmuran yang dihasilkan mengarah ke peradaban dan mendirikan kota pertama. Justru fakta ini yang berkaitan dalam Alkitab, bahwa sifat dasar dari kota pertama - yang disebut Henok atau Chenok, ( "the Abode Murni", di Dravida) - untuk Kain (Kejadian 4:17). Ini berakhir pada penyelesaian dari waktu yang diberikan adalah apa yang dimaksud dengan Henok's umur tentang "365 tahun".

Nama ini ( "Pure Land") dari pertama dari semua kota adalah sama dalam tradisi Hindu (Shveta-dvipa, Sukhavati, Atala, dll). Bahkan dalam tradisi Amerindian, Yvymaraney "Negeri Murni", adalah tempat kelahiran legendaris Tupi-Guarani Indian Brasil, sama seperti Aztlán adalah tanah asal suku Aztec kuno di Meksiko, dan Tollán adalah salah satu Mayas of Yucatan. Man - atau, lebih tepatnya, yang simians antropoid yang nenek moyang kita - sebenarnya muncul di Afrika sekitar 3 juta tahun yang lalu. Tapi anthropoids ini segera menyebar di seluruh Eurasia dan luar, mencapai Timur Jauh dan Australia, inklusif, dengan sekitar 1 juta tahun yang lalu atau bahkan lebih.

Indonesia, situs eden

Saat itu di Indonesia dan negeri-negeri tetangga bahwa manusia, setelah beremigrasi dari semi-desertic sabana di Afrika, ditemukan pertama kondisi iklim yang ideal bagi pembangunan, dan di sanalah ia menemukan pertanian dan peradaban. Semua ini terjadi selama Pleistosen, yang terakhir dari era geologis, yang mengakhiri kurang 11.600 tahun yang lalu. Meskipun panjang standar manusia, ini hanyalah sebuah momen singkat dalam istilah geologi.

Pleistocene - nama yang bahasa Yunani untuk "paling baru" - juga disebut Kuarter Anthropozoic Didahului Era atau, lagi, Ice Age. Selama Pleistosen dan, lebih tepatnya, selama glasial episode yang terjadi pada interval sekitar 20 ribu tahun, permukaan laut sekitar 100-150 meter (330-500 kaki) di bawah nilai sekarang. Dengan ini, jalur pantai besar - yang disebut Continental Platform (dengan lebar sekitar 200 km = 120 mil) - menjadi terbuka, tanah membentuk jembatan yang saling berhubungan banyak pulau dan daerah.

Yang paling dramatis eksposur tersebut terjadi di wilayah Indonesia, tepatnya tempat pertama kemanusiaan berkembang. Perluasan yang luas dari Laut Cina Selatan kemudian membentuk sebuah benua besar, memang "lebih besar dari Asia Minor dan Libya menaruh bersama". Hal ini, seperti yang akan kita lihat di bawah ini, tepat apa Plato menegaskan dalam wacana tentang Atlantis, the Critias.

Dengan akhir Pleistocene Ice Age, gletser luas yang menutupi seluruh bagian utara Amerika Utara dan Eurasia mencair. Ditiriskan perairan mereka ke laut, tingkat yang meningkat dengan jumlah diperkirakan sekitar 100-150 meter dikutip di atas. Dengan kenaikan ini, Atlantis tenggelam dan menghilang untuk selamanya, bersama dengan sebagian besar penduduknya, yang kami perkirakan, berdasarkan data Plato, pada sekitar 20 juta orang, besar untuk zaman yang bersangkutan.

eden adalah sama dengan lemurian Atlantis

Lebih tepatnya, ini adalah benua cekung Lemurian Atlantis, yang lebih besar dari dua Atlantises disebutkan oleh Plato. Lemuria adalah padang rumput luas yang disebut Elysian Fields orang Yunani dan Mesir yang bernama "Bidang Reeds" (Sekhet Aaru) atau belum, "the Ancestral Land" (To-wer), luar negeri surga tempat tinggal mereka sebelumnya, di Zep Tepi ( "Primordial Time"). Benua yang cekung menjadi Tanah Mati, yang mengerikan, daerah terlarang di mana tidak ada pelaut yang pernah berani untuk pergi, karena itu "Land of No Return".

Cukup menarik nama "Tanah Leluhur" (atau Serendip) adalah justru nama Dravida Taprobane (Sumatra), pulau di mana orang Hindu menempatkan murni mereka surga, juga cekung dalam bencana. Yang suram, yg merusak tempat yang tetap di atas air itu bernama Sheol ( "Hell") oleh orang Yahudi, dan, dalam menyelamatkan bintik-bintik, "Pulau Blest" (Makarion nesos) atau Hades oleh Yunani, Amenti atau Punt oleh Mesir, Dilmun oleh Mesopotamia, Hawaiki oleh orang Polinesia, Svarga oleh Hindu, dan seterusnya.

Bangsa Celtic - legenda yang terbaik mungkin adalah ingatan tentang dunia emas cekung - disebut tempat Avallon, Emain Abbalach atau, namun, Ynis Wydr ( "Island of Glass"). Mereka juga terkait tempat yang menakutkan dengan Holy Grail dan kebangkitan orang mati mereka pahlawan, seperti yang kita detail di lain, akan datang barang dari kami. Dan kami sudah disebutkan di atas dari tupian Yvymaraney Indian Brasil, atau Aztlán atau Aztec Aztatlan dari Meksiko, atau Tollán dari Mayas of Yucatan, yang terendam tanah dari mana orang India ini terpaksa harus melarikan diri, ketika tenggelam dlm laut , menghilang selamanya.

Eksodus seminalis

Terbesar dari semua koloni itu Lemurian Atlantis, didirikan di India, yang sudah selama heydays Lemuria, dan yang, pada waktunya, mencapai puncak keagungan manusia. Atlantis dan Lemuria yang makmur untuk berhubung dgn mintaku'lburuj era penuh (2.160 tahun), ketika bencana besar menghancurkan dunia bersama mereka, di akhir Pleistosen, sekitar 11.600 tahun yang lalu.

Sedikitnya yang selamat dari bencana yang tenggelam Lemuria jauh terpaksa mengungsi hancur mereka surga, bergerak pertama ke India, lokasi Atlantis, yang selamat di bagian utara, bagian loftier. Tapi bencana global juga menyebabkan akhir Pleistocene Ice Age, dan mencairnya gletser Himalaya menyebabkan banjir besar dari sungai-sungai di Asia, membuat daerah tidak layak untuk tempat tinggal manusia. Dilanda banjir ini sisa Atlantis ini, sudah sangat hancur oleh bencana alam yang asli, kebakaran raksasa dari gunung berapi Indonesia dan tsunami besar disebabkan mereka, maupun oleh wabah yang melanda negara mereka di belakang mereka.

Sekali lagi, orang-orang terkutuk ini terpaksa melarikan diri, beremigrasi, sepanjang ribuan tahun berikutnya, ke tempat-tempat terpencil seperti Mesir, Mesopotamia, Palestina, Afrika Utara, Eropa, Asia Utara, Timur Dekat dan bahkan Oseania, dan Amerika. Beberapa datang dengan berjalan kaki, dalam rombongan besar seperti orang-orang Israel eksodus. Yang lain datang dengan kapal laut, seperti di dalam bahtera Nuh atau Aeneas dengan armadanya, untuk mendirikan peradaban besar dunia kuno.

Peradaban besar yang kami ketahui, di Lembah Indus, di Mesir, di Mesopotamia, Asia Kecil, Yunani, Roma, Meksiko dan bahkan Amerika semua koloni Atlantis yang didirikan oleh korban yang selamat dari bencana yang menghancurkan surga kembar Atlantis dan Lemuria. Koloni ini, tentu saja, berusaha untuk menciptakan Eden mereka di tanah air baru mereka.

Para pendatang baru bernama masing-masing fitur topografi setelah arketipe dari kediaman murni seperti imigran akan melakukan hal yang sama saat ini. Itulah alasan mengapa kita tetap menemukan sisa-sisa Atlantis di mana-mana, dari Brasil dan Amerika Utara ke Spanyol, Crete, dan bahkan Afrika dan Eropa Utara. Semua peradaban kuno ini berbicara tentang Pahlawan membudayakan seperti Manu, Nuh, Aeneas, yang Oannés, hotu Matua, Quetzalcoatl, Kukulkan, Bochica dan, tentu saja, Atlas dan Hercules, yang didirikan di mana-mana Kembar peradaban di mana-mana.

realitas pahlawan membudayakan

Yang cukup menarik, satu-satunya tempat yang begitu jauh tidak diklaim di antara ratusan sitings Atlantis adalah Indonesia. Tentu saja, tidak ada bukti kuat tentang keberadaan Atlantis dan, bahkan lebih lagi, Lemuria, yang pernah ditemukan. Alasan untuk ketidakhadiran ini adalah mudah untuk menjelaskan: para pakar semuanya telah mencari Atlantis di sisi yang salah di dunia.

Legenda dari semua bangsa menceritakan membudayakan Heroes, Angels, Gods, atau bahkan Demons and Monsters yang civilizers mereka dan yang mengajarkan agama, hukum, pertanian, metalurgi dan alfabet. Ini adalah the Fallen Angels, yang sama terlalu manusia putus asa pahlawan yang jatuh cinta dengan gadis pribumi yang indah, Daughters of Man (Gen. 6). Dewa jatuh ini tidak Astronauts, atau Sprite, tetapi orang-orang suci yang datang sebagai misionaris dari Atlantis. Bagaimana lagi yang bisa mereka kawin dengan manusia perempuan dan anak-anak berkembang biak?

Misterius "Anak-anak Allah" (ben Elohim) dari Kejadian 6 adalah yang persis sama diidentifikasi oleh Plato dengan Atlantis. Dosa mereka dengan Daughters of Men - dan, yang lebih mungkin, penolakan dan perbudakan hibrida mereka - menyebabkan air bah. Ini memang Dosa Asal misterius yang mengakibatkan kehancuran Paradise (Atlantis) dan Kejatuhan Manusia. Dosa ini adalah salah satu ritual "dicuci" oleh Pembaptisan, itu sendiri sebuah alegori dari banjir, seperti St Jerome dan Patriarkh Gereja lainnya secara eksplisit mengakui.

Plato mengutip justru penyebab kehancuran Atlantis oleh Tuhan (Zeus) dalam (tidak selesai) dialog di Atlantis, the Critias. Dan cerita yang sama, dalam bentuk allegorized, juga diberitahu oleh Homer mengenai Phaeacian "Anak-anak Allah". Hal ini juga tokoh-tokoh dalam mitos-mitos Celtic mengenai Mererid, putri yang berdosa Raja Gradlon, yang melakukan scabrous menyebabkan tenggelamnya tanah Ys. Jadi, di Amerika (Bochica, dll) dan di tempat lain.

Jika kita membaca Alkitab dengan penuh perhatian, kita perhatikan bahwa juga berbicara tentang dua ciptaan, persis seperti Plato juga bercerita tentang dua Atlantises berbeda (bdk. Kej 1 dan 2). Selain itu, Alkitab juga bercerita tentang dua penghancuran dunia dengan Air Bah. Kedua adalah narasi berbeda dgn aneh bordiran pada satu sama lain dalam Kejadian 6, dan terdiri atas Elohis dan rekening Jahvist air bah, yang menghubungkan dua tampak berbagai aktivitas.

Alkitab adalah benar setelah semua

Kita melihat, kemudian, bahwa tradisi (atau tradisi) diriwayatkan oleh Plato persis bertepatan dengan pengetahuan Alkitab. Selain itu, seperti yang kita katakan di atas, kedua tradisi juga pasti setuju dengan peristiwa-peristiwa prasejarah diamati dalam geologi dan catatan arkeologi. Dan, ketika kita menelusuri legenda di seluruh dunia sumber mereka, kita selalu berakhir di India dan Indonesia, dua Atlantises legenda, tidak peduli di mana kita mulai dari.

Sebenarnya, tidak menenggelamkan benua. Ini adalah laut yang naik, banjir seluruh benua, seperti yang terjadi di Lemurian Atlantis dan, untuk sebagian besar, di Lembah Indus, lokasi Atlantis yang kedua. Relativis akan mengatakan bahwa kedua peristiwa - kenaikan permukaan laut dan benua tenggelam - adalah satu dan sama, paling tidak dari sudut pandang pengamat. Tapi geolog akan perdebatan sengit masalah ini, dan klaim, karena mereka telah lama dilakukan, yang sebenarnya adalah benua cekung geologi kemustahilan. Ini semua adalah masalah perspektif, dari relativistik ilusi. Tetapi sumber-sumber kuno terbaik - mengatakan, misalnya yang luar biasa hikayat Hindu, Mahabharata - berbicara tentang kenaikan permukaan laut dan bukan dari benua tenggelam.

cekung benua yang sukar dipahami mengungkapkan

Namun, siapa pun yang memeriksa bagan dari dasar laut di wilayah Indonesia seperti Ice Age Map of Indonesia ditunjukkan pada Gambar. 1 dibawah ini, akan mudah mengakui bahwa dikelilingi Laut Cina Selatan oleh Indonesia memang membentuk sebuah benua selama glaciation terakhir, yang berakhir sekitar 11.600 tahun yang lalu. Bagan ini jelas menunjukkan cekung benua Lemurian Atlantis di Indonesia, serta luas strip cekung India Atlantis di Delta Indus.

Gambar. 1 - Map of Atlantis Selama Ice Ages (klik untuk memperbesar) Peta tidak meninggalkan ruang bagi keraguan tentang realitas apa yang sedang kita menegaskan mengenai Lemurian dan Atlantis India, satu hampir seluruhnya cekung, dan yang lain cekung yang sangat besar ekstensi. Kami menyatakan bahwa peta ini - berbeda dengan kebanyakan orang menyajikan situs yang diusulkan untuk Atlantis dan / atau Lemuria - adalah murni ilmiah, bukan penemuan kita atau orang lain. Hal ini didasarkan pada geofisika rinci seafloors rekonstruksi di wilayah yang bersangkutan, dan menggambarkan bidang kedalaman di bawah 100 meter, yang jelas-jelas terpapar selama Zaman Es, ketika permukaan laut turun dengan jumlah tersebut dan bahkan lebih.

Bahkan, beberapa sangat ilmiah, peta serupa ada, dan dapat dilihat di tempat lain, termasuk di Internet. Salah satu peta ini, diterbitkan dalam National Geographic Magazine (vol. 174, No 4, Oktober 1988, pg. 446-7) dan direproduksi, untuk perbandingan, pada Gambar. 2 di bawah ini. Ini menunjukkan dunia seperti yang beberapa 18.000 tahun yang lalu, di puncak glaciation terakhir dari Pleistocene Ice Age. Seperti dapat dilihat, peta ini cukup berhubungan erat dengan kita, ditunjukkan dalam Gambar. 1.

Gambar. 2 - Peta oleh National Geographic Magazine Dunia Kuno Selama Ice Age (18.000 tahun yang lalu) (klik untuk memperbesar). Secara khusus, harap perhatikan bongkahan tanah besar, benua dimensi, ke selatan Asia Tenggara, dan yang menjadi tenggelam ketika permukaan laut naik, pada akhir Pleistocene. Lain sebidang tanah yang cukup besar di Delta Indus, lokasi Atlantis yang kedua, juga menghilang juga, pada kesempatan itu. Tidak ada daerah lain di dunia menampilkan acara serupa, termasuk Amerika (tidak ditampilkan). Kesimpulannya adalah bahwa Atlantis, jika Plato sebenarnya berbicara dengan jujur, hanya bisa telah terletak di wilayah dunia.

Seperti kedua peta di atas menunjukkan, perluasan besar - ukuran benua - Asia Tenggara yang berkepanjangan jalan sampai ke Australia. Berukuran benua ini tanah itu memang "lebih besar dibandingkan di Asia [Minor] dan Libya [Afrika Utara] diletakkan bersama-sama", persis seperti Plato menegaskan. Hal ini terlihat sudah sekitar dua atau tiga kali lebih besar daripada ukuran benua India. Itu juga jauh lebih besar daripada Australia, ditunjukkan berlebihan karena kekhasan proyeksi digunakan.

Di Kepulauan Indonesia dan Semenanjung Malaya yang kita amati sekarang ini adalah peninggalan unsunken dari Lemurian Atlantis, gunung-gunung vulkanik yang luhur yang menjadi pulau-pulau vulkanik daerah ini, situs sejati surga dalam semua tradisi kuno. Bagian yang cekung ekstensi sekarang benua bentuk berlumpur, dasar dangkal dari Laut Cina Selatan. Hal ini dikelilingi oleh Indonesia dan membentuk batas Hindia dan Samudra Pasifik.

Lalu, seperti sekarang, Indonesia membentuk membagi dan Baru Kuno semesta alam, apa yang dahulu disebut Ultima Thule ( "Ultimate Divide"). Thule juga berhubungan dengan apa yang orang tua kami bernama Pilar Hercules, yang, menurut Plato, yang ditempatkan "hanya di depan Atlantis" (hyper sepuluh Heraklei Nyssai).

Pilar Hercules juga yang dilalui perbatasan antara Lama dan Dunia Baru, juga disebut Timur dan Barat. Kedua adalah terpisah oleh pulau busur vulkanik di Indonesia, benar-benar batas dari Pelat tektonik yang membentuk Kuno dan Dunia Baru. Ini hambatan untuk navigasi, di wilayah Atlantis juga tegas disebutkan dalam Plato dan sumber-sumber kuno lainnya di Atlantis.

keretakan besar dan mega dari khasma Hesiod

Keretakan besar yang datang untuk memisahkan pulau Jawa dan Sumatra, disebabkan oleh pengendapan dari gunung berapi Krakatau berubah menjadi kapal selam raksasa kaldera, yang sekarang membentuk Selat Sunda. Keretakan besar ini sangat terkenal dari dahulu. Hesiod menyebutnya Khasma Mega ( "Great Rift"), sebuah designative ia belajar dari Hindu. Ini orang menyebutnya (dalam bahasa Sansekerta) dengan nama-nama seperti Abhvan ( "Great Abyss"), Kalamukha ( "Black Hole"), Aurva ( "Fiery Pit") Vadava-mukha ( "Fiery Submarine Mare"), dan seterusnya. Great Abyss ini juga sama yang orang Mesir yang disebut Nun, dan yang bernama Mesopotamia Apzu ( "Abyss").

Hesiod dan beberapa tempat kuno lainnya berwenang Khaos ini ( "Divide") atau Khasma Mega ( "Giant Abyss") di dunia membagi, di bagian paling masuk ke neraka (neraka). Hesiod juga tempat Atlas dan Pilar-Nya (Matius Atlas) di tempat yang suram ini navigator kuno seperti Ulysses dan bertemu Argonauts azab mereka. Seperti yang kami katakan di atas, mengerikan ini Black Hole - yang pola dasar dari semua itu yang menghantui imajinasi manusia - memang merupakan kaldera Krakatau yang berapi-api, siap untuk menghidupkan kembali di azab, paling tidak dalam tradisi Hindu di Vadava-mukha.

apa yang terjadi selama Pleistocene?

Mari kita menyimpulkan apa yang terjadi selama Pleistocene Ice Age, karena signifikansi sejati tampaknya telah luput dari perhatian dari semua Atlantologists sejauh ini.

Ini adalah bagaimana Zaman Es mulai. Dikonversi menjadi awan oleh sinar matahari, air laut yang dibawa ke benua oleh angin, di mana ia mengalir ke bawah baik sebagai hujan, hujan es atau salju. Jika kondisi benar, karena mereka kemudian, air downfalling ini masih dipertahankan dalam gletser yang akhirnya menutupi daerah beriklim sedang dengan kain kafan es yang merupakan salah satu atau dua kilometer tebal. Akibatnya permukaan laut turun sebesar 100-150 meter atau bahkan lebih, memperlihatkan dangkal dasar laut.

Itulah yang terjadi di Laut Cina Selatan, yang jarang melebihi kedalaman 60 meter atau lebih, seperti yang kita tunjukkan di Peta Gambar. 1. Ketika Zaman Es berakhir, proses kembali. Gletser mencair, dan mereka dengan cepat meltwater mengalir ke laut. Karena itu, sebelumnya bagian bawah terungkap sebagai lahan kering menjadi tenggelam sekali lagi.

Seperti yang kita lihat, dunia bekerja sebagai sejenis flip-flop atau ayunan, selamanya berosilasi antara ekstrem dingin dan panas. Cukup menarik, itu adalah Hidup itu sendiri yang menyeimbangkan keseimbangan, memperkenalkan umpan balik negatif yang melawan kecenderungan dunia untuk membekukan atau mendesis. Misalnya, jika karbon dioksida (CO2) meningkat di atmosfer, temperatur cenderung naik dengan apa yang disebut efek rumah kaca. Inilah yang kita amati dalam mendesis Venus, suasana yang hampir murni CO2. Dalam dingin sekali Mars, yang suasana (dan Kehidupan) adalah hampir semua hilang dalam bencana yang luar biasa - mungkin disebabkan oleh jatuhnya sebuah meteorit dari ukuran planetoidal - ayunan sebaliknya terjadi.

Kehidupan di mana pun ada, seperti di Bumi, peningkatan isi CO2 atmosfer juga mengakibatkan peningkatan fotosintesis. Tanaman tumbuh lebih mewah, memperbaiki kelebihan karbon dioksida dalam diri mereka sendiri, dan mengurangi situasi. Proses sebaliknya terjadi jika konten CO2 atmosfer berkurang karena alasan tertentu. Akibatnya fotosintesis tanaman dikurangi dan masalah - terutama plankton di laut, daripada hutan tropis - berkurang, membebaskan CO2. Hal ini meningkatkan konten atmosfer, cenderung meningkatkan suhu bumi kembali ke nilai normal.

Namun, kompensasi ini hanya bekerja dalam batas-batas yang kaku, dan kekacauan yang berlebihan dapat memicu Ice Age atau Popular Umur. Seperti dengan sandal jepit dan keseimbangan, transisi ini diperkuat oleh umpan balik yang positif, dan dengan cepat mengarah kepada situasi yang ekstrim, sekali lagi, stabil dan permanen sampai dipicu kembali lagi. Sebagai contoh jika lautan pemanasan, CO2 kelarutan berkurang, dan konten atmosfer meningkat, cenderung untuk lebih meningkatkan suhu bumi, dan sebaliknya.

Selain itu, es menutupi sinar matahari secara efektif mencerminkan kembali ke angkasa luar, mengurangi jumlah panas matahari diserap oleh bumi. Akibatnya suhunya tetes, dan gletser lebih meningkatkan, sampai mereka mencakup semua daerah beriklim bumi. Dalam ketiadaan Kehidupan, kita memiliki dua ekstrem instanced oleh dua tetangga kami planet, Venus dan Mars. Seperti yang kami katakan di atas, Venus adalah sepanas neraka, sedangkan Mars adalah benar-benar beku, seolah-olah untuk dengan jelas mencontohkan kepada kita semua dua ekstrem dari kondisi tak bernyawa.

penyebab zaman es

Penyebab dari Abad Es dan periodik maju dan mundur dari gletser kontinental tidak cukup dikenal. Tapi, untuk percaya pada mitos, akhir Pleistocene Ice Age adalah akibat ledakan dahsyat Gunung. Atlas, satu yang mengusap kembar Atlantises keluar dari peta.

Mount Atlas - "Tiang Surga" yang menghiasi Lemurian Atlantis - adalah puncak gunung berapi yang sangat besar di wilayah yang sekarang sesuai dengan busur pulau Indonesia. Untuk lebih tepatnya, ini adalah gunung berapi Krakatau mengerikan, bahkan saat ini masih hidup dan sangat aktif, meskipun ledakan monumental di Atlantis kali. Kolosal setelah ledakan, gunung Krakatau menjauh tenggelam dlm laut, menjadi kaldera raksasa yang sekarang membentuk Selat Sunda itu antara Jawa dan Sumatra.

Kaldera raksasa ini - sepenuhnya 150 km di - adalah "Fiery Submarine Mare" (Vadava-mukha) bahwa kita komentar di atas. Ledakan raksasa Gunung Suci dibuktikan tidak hanya oleh mitos-mitos di seluruh dunia yang menceritakan akhir Paradise (Atlantis). Cataclysms serupa di wilayah terpencil ini dunia juga memberi kesaksian oleh tektite sabuk dan lapisan abu vulkanik yang menutupi sebagian besar Samudera Hindia Selatan, Australia, Indonesia dan Tenggara Asia.1

Abu dan debu dibebaskan oleh ledakan raksasa dibawa pergi oleh angin, dan gletser menutupi Utara Asia dan Amerika Utara dengan selubung gelap terkarbonasi materi. Hasilnya adalah peningkatan penyerapan sinar matahari dan cepat meleleh dari gletser yang menutupi benua-benua di luar Kawasan Tropis.

termal pelarian dan kepunahan kuaterner

Proses pencairan gletser jauh dari seragam, karena banyak ahli geologi dari sekolah Darwin cenderung untuk berpikir. The meltwater dari gletser cepat mengalir ke laut, menciptakan tekanan besar antara kelebihan beban dasar laut dan diringankan benua. Kerak bumi retak dan rifted di banyak tempat, yang berasal dari gunung berapi, gempa bumi dan tsunami dari proporsi yang belum pernah terjadi sebelumnya. Dan proses kekerasan terus berlanjut, didorong oleh momentum sendiri, sampai akhirnya selesai dan bumi telah keluar dari Ice Age. Dalam acara yang mengerikan ini - yang sama yang memanggil mitos banjir - sekitar 70% dari spesies mamalia besar punah.

Ini mandiri, proses peningkatan degeneratively fisikawan yang sebut "umpan balik positif", dan identik dengan salah satu yang menyebabkan transisi elektronik sandal jepit di komputer elektronik dan semacamnya. Hal ini juga berhubungan dengan proses fisik lainnya yang disebut "termal pelarian", yang terjadi, misalnya, pada skala global dalam Efek rumah kaca. Peningkatan suhu bumi cenderung membebaskan CO2 (gas karbonat) yang dilarutkan dalam air laut ke atmosfer, sejak kelarutannya berkurang dengan suhu.

CO2 atmosfer ekstra lebih cenderung untuk meningkatkan pemanasan global, membebaskan jumlah CO2 lebih lanjut, dan seterusnya sampai semua itu dilepaskan ke atmosfer, dan bumi menjadi terlalu panas. Ini mungkin apa yang terjadi pada Venus mendesis, mungkin miliaran tahun yang lalu. Dan mungkin juga menjadi kasus yang juga memiliki Kehidupan Venus, Mars rupanya juga, karena kita mulai belajar.

Memanggil ahli geologi kematian meluas yang terjadi pada akhir Pleistosen dengan nama Kuarter kepunahan. Tetapi mereka digagalkan di menjelaskan tujuan mereka, dan tidak ada yang secara harfiah puluhan teori-teori ilmiah Perjanjian ini diusulkan untuk menjelaskan penyebab Ice Ages consensualy telah diterima oleh komunitas ilmiah. Di antara spesies punah luar biasa, kami memiliki beberapa hewan: raksasa, yang Mastodon, yang macan bertaring, gua beruang, sloths raksasa, lusinan spesies camelids, cervids, cavalids dan, sangat mungkin, yang Neandertal dan Cro - Magnon laki-laki, yang menjadi punah pada sekitar tanggal ini untuk beberapa alasan yang tidak dapat dijelaskan hanya dapat dikaitkan dengan yang satu ini.

Tidak, mitos-mitos kuno sekali tidak melebih-lebihkan tingkat universal dan kekerasan dari bencana banjir. Kepunahan massal di seluruh dunia dari ujung Kuarter (Pleistocene Ice Age) attest, paling tegas, bahwa kebrutalan bencana benar-benar Velikovskian luasnya, jika tidak di alam.

Dan contoh kedua Mars dan Venus Celestial saksi dari apa yang mungkin memang terjadi pada bumi jika kita bertahan dalam menyiksanya cara kita saat ini lakukan. Apakah kedua planet Dua Saksi disebutkan dalam Kitab Wahyu (11:8), "terpapar mayat mereka di jalan-jalan Kota Besar (langit?) Untuk semua untuk melihat dan mengagumi"? Aku tidak tahu, tapi aku takut mereka bisa jadi begitu. Apakah ini tidak saksi dari kematian permanen pada skala planet mungkin memang hal yang paling menakutkan di seluruh langit?

runtuhnya gunung suci Osiris

borobudurMount Atlas adalah Gunung Suci yang sama surga diwakili oleh Piramida Besar. Osiris mati, reposing dalam Gunung Suci, mewakili orang mati Atlantis atau, lebih tepatnya, yang mati Atlantis, dikuburkan dan dimakamkan oleh ledakan raksasa Gunung Suci Atlas. Gunung Atlas adalah sama dengan Gunung Meru dari Hindu, berbentuk piramida gunung yang ada langit berfungsi sebagai dukungan.

mandborobudurIndeed, kata Mesir untuk piramida, M'R yang paling mungkin dibaca Meru seperti dalam nama Hindu gunung simulasi oleh monumen. Mesir kuno tidak mengeja huruf vokal dalam hieroglif mereka, sehingga di atas mungkin membaca sesuai dengan yang sebenarnya salah satu dari Mt. Meru, Gunung yang meledak surga.

Dalam tradisi Hindu, Mt. Meru menjabat sebagai Stambha, Tiang Surga. Mt. Meru (atau Kailasa = "Tengkorak" = Kalvari ") juga menjabat sebagai dukungan dari Pohon Kosmis dimana Cosmic Man (Purusha) disalibkan, seperti Kristus di kayu Salib. Mt. Meru juga merupakan Gunung Suci surga, tak henti-hentinya digambarkan di India selama ledakan, dalam mandalas indah seperti Shri Yantra. By the way, Golden Lotus sering ditampilkan dengan mereka menggambarkan "jamur atom" ledakan kosmis, sebagaimana kita berdebat secara rinci dalam pekerjaan kita yang berjudul "The Secret dari Golden Flower".

Sebagai akibat dari ledakan raksasa, Mt. Meru (atau Atlas), voided dari magma, roboh seperti ditusuk semacam balon. Puncak yang sangat besar tenggelam dlm laut, berubah menjadi kaldera raksasa. Penelitian kami ke dalam dunia kuno legenda telah menunjukkan bahwa ini memang gunung Krakatau, yang sama yang masih castigates daerah meletus lagi kapan pun eksplosif, seperti yang terjadi pada tahun 1883 dan kesempatan lain.

makna primordial pengebirian

Krakatau sekarang merupakan gunung berapi kapal selam terletak di dalam kaldera raksasa yang sekarang membentuk Selat Sunda yang memisahkan Sumatera dari Jawa. Dalam mitos Hindu, dalam ledakan dan nasib selanjutnya adalah allegorized sebagai pengebirian primordial yang ternyata Kosmis lingga (Lingga) ke dalam Cosmic Yoni (or Vulva). Yoni dan bumi adalah sama dengan Khasma Mega dari Hesiod, yang disebutkan di atas lebih lanjut.

Kita melihat bagaimana tradisi yang tampaknya tidak masuk akal orang dahulu memang membuat jauh lebih masuk akal daripada usaha kasar penjelasan oleh pakar modern segala macam. Hal ini juga justru fakta ini yang merujuk legenda Atlas, Tiang Surga. Tidak dapat menanggung beban sebuah kelebihan penduduk bumi dengan dewa-dewa, Atlas runtuh, dan membiarkan langit jatuh fajar di atas bumi, menghancurkan itu.

Nama Atlas memang berasal dari bahasa Yunani TLA radix yang berarti "beruang", didahului oleh sebuah affix negatif, yang berarti "tidak". Oleh karena itu, nama Atlas secara harfiah berarti "yang tidak mampu menanggung [langit]". Itulah alasan mengapa Atlas (dan Titan lain seperti dirinya) sering digambarkan dengan lemah, berbelit-belit kaki. Runtuhnya langit, tentu saja, sebuah alegori yang cerdas dari jatuhnya debu vulkanik dan puing-puing dari ledakan jauh Mt. Atlas. Dalam mitos Hindu, satu lapisan menguburkan mantan satu, yang memunculkan suatu langit baru dan bumi baru, sama seperti kita baca dalam Wahyu.

Atlantis dan terbitnya phoenix

Garuda Pancasila di atas adalah, tentu saja, persis pesan dari St John's Wahyu (21:1) mengenai Yerusalem Baru. Yerusalem Baru adalah Atlantis, lahir kembali dari abu, sebagai semacam Phoenix, burung yang melambangkan surga dalam mitologi Yunani. Memang mitos ini disalin dari Mesir yang, pada gilirannya, cribbed mereka dari India. India dan, lebih tepatnya, Indonesia, adalah tanah yang benar Phoenix, seperti yang relatif mudah untuk menunjukkan, karena dari sana yang datang nama burung Benu orang Mesir dan dari Phoenix Yunani.

Burung mistik ini disebut Vena dalam Rig Veda. Jadi, jika memang melambangkan Phoenix Atlantis-Paradise resurging dari abu sendiri, seperti yang kami percaya hal itu terjadi, ada dapat sedikit keraguan bahwa legenda adalah awalnya Veda, dan berasal di Hindia. Nama berarti apa-apa yang masuk akal baik di Mesir atau Yunani. Tetapi dalam lidah-lidah suci India itu berarti ide Eros (Cinta) dan, lebih tepatnya, Matahari Keadilan yang melambangkan Atlantis naik dari perairan jurang purba. Mitos ini membentuk inti dari salah satu Surgawi Yerusalem, dan juga, mengatakan, mereka dari Cosmogonies gaib, orang-orang Mesir, dan orang-orang dari bangsa-bangsa yang paling kuno lainnya.

mesir dan asal-usul legenda Atlantis

cosmic_manPlato mengakui bahwa dia belajar legenda Atlantis dari Solon yang, pada gilirannya, mendapatkannya dari Mesir. Tetapi mereka, pada gilirannya, belajar dari orang-orang Hindu dari Punt (Indonesia). Bergalah adalah Tanah Leluhur (To-wer), Pulau Api awalnya dari mana orang Mesir datang, di fajar kali, diusir oleh bencana yang rata tanah mereka. Dari sana juga datang bangsa Arya, Ibrani dan Fenisia, serta bangsa-bangsa lain yang mendirikan peradaban yang luar biasa zaman dahulu.

Ini adalah dari Lemurian Atlantis primordial yang berasal semua mitos dan tradisi keagamaan, yang sangat yang yang memungkinkan pendakian Manusia di atas binatang di lapangan. Atlantis berasal dari semua ilmu pengetahuan dan teknologi kami: pertanian, menggembala ternak, alfabet, metalurgi, astronomi, musik, agama, dan sebagainya. Penemuan ini sangat pintar dan sangat maju sehingga mereka tampak sebagai alam seperti udara yang kita napas dan dewa-dewa yang kita sembah. Tetapi mereka semua sangat maju penemuan yang datang kepada kita dari fajar kali, dari Atlantises kembar kami benar-benar lupa.

Hal ini di India dan di Indonesia, bahwa, bahkan hari ini, kita menemukan rahasia Atlantis dan Lemuria yang tersembunyi di balik tabir tebal mitos-mitos mereka dan alegori. Peristiwa penting yang menyamar dalam agama Hindu dan Buddha tradisi, atau diceritakan sebagai kisah-kisah menarik seperti orang-orang dari Ramayana dan Mahaharata. Kesalahan yang menyebabkan orang dahulu, bersama dengan peneliti modern, sehingga percaya bahwa Atlantis terletak di Samudera Atlantik mudah dipahami sekarang bahwa sebenarnya kita tahu keberadaan benua yang tenggelam. Ketika manusia pindah dari Indonesia ke wilayah Eropa dan Timur Dekat, yang "Samudera Barat" dari Hindu menjadi Oriental Samudera, karena lalu berbaring ke arah timur.

The (Hindu) mitos yang mengatakan Atlantis tenggelam di Samudera Occidental menjadi diartikan sebagai Samudera Atlantik, barat dalam hal ke Eropa, tempat tinggal baru mereka. Orang Hindu disebut cekung benua dengan nama Atala (atau Atalas) uncannily nama yang sama dengan Atlas dan Atlantis (dengan menambahkan akhiran dari tis atau tiv = "gunung", "pulau", di Dravida, dan diucapkan "tiw"). Hal ini dari dasar bahwa nama ini seperti yang misterius Keftiu dari orang Mesir, yang "Kepulauan di Tengah Samudera (the" Great Green ")" akhirnya datang (Keftiu = Kap-tiv = "ibukota pulau" atau " Skull Island "=" Calvary "di Dravida, bahasa murni Indonesia). Tapi ini adalah cerita panjang yang kami katakan di tempat lain, menyajikan bukti-bukti detail yang luar biasa ini dugaan kita.

pembalikan dari lautan dan arah mata angin

Ini adalah untuk ini "pembalikan" dari Kardinal Arah hanya disebutkan bahwa Plato dan Herodotus membuat referensi, bersama dengan otoritas kuno lainnya. Yang cukup menarik, bahkan Amerindian - yang datang, setidaknya sebagian, dari Indonesia ke Amerika Selatan melalui Samudera Pasifik didorong oleh Atlantis bencana alam - sering membingungkan arah purba tanah air mereka, yang mereka kadang-kadang tempat di timur, kadang-kadang dalam barat. Tapi, anehnya, mereka tidak pernah tempat itu ke arah utara, sebagaimana mestinya, jika mereka datang melalui Selat Bering.

Yunani kuno berusaha untuk memperbaiki mitos-mitos mereka memanggil, dengan nama "Atlantik", seluruh lautan yang mengelilingi Eurasia dan Afrika. Tapi hasilnya bahkan lebih buruk daripada sebelumnya dan kebingungan hanya tumbuh. Herodotus digunakan untuk tertawa konyol ini usaha oleh ahli geografi pada zamannya (Hist. 2:28). Aristoteles, dalam De Coelo, juga sangat spesifik pada kenyataan bahwa nama "Samudera Atlantik" - yaitu, "Samudra dari Atlantis" - adalah seluruh melingkar, meliputi bumi-laut.

Jadi, kita bisa menyimpulkan bahwa Atlantis dapat diterjemahkan secara sah baik di laut kita sekarang panggilan dengan nama itu, atau, bahkan lebih mungkin, di laut di mana dahulu menempatkan legenda mereka dan mereka navigations, Samudera Hindia. Samudra ini mereka bernama Erythraean, Atlantik, dan seterusnya, nama-nama yang memang terkait dengan Atlantis, "tanah Tentara Merah", yang primordial atau Erythraea Phoenicia, yang namanya berarti "yang merah".

Mungkin harus ditekankan bahwa itu adalah nama dari Samudra Atlantik (atau "Samudra dari Atlantis") yang berasal dari Atlantis, dan bukan sebaliknya. Dan nama itu jauh mendahului Plato, yang disebutkan, f. i., oleh Herodotus, yang menulis Sejarah sepenuhnya abad sebelum Critias Plato menulis. Selain itu, sebagai Herodotus menjelaskan, nama "Samudera Atlantik" awalnya diterapkan ke Samudera Hindia, daripada tubuh air sekarang jadi bernama. Jadi, itu adalah pada sisi dunia, dan bukan pada kita bahwa kita harus berharap untuk menemukan Atlantis.

atlas, hercules, Atlantis, dan itinerary para pahlawan

Mitos Yunani sering mewujudkan kebingungan timur dan barat bahwa kami hanya mengingatkan. Di perjalanan dari pahlawan Yunani seperti Hercules, Jason, Ulysses dan Argonauts semua tidak masuk akal bila ditempatkan di Mediterania atau bahkan di Samudera Atlantik. Tetapi sebuah mereka semua membuat banyak mitos geografis dan masuk akal jika kita menempatkan mereka di Samudera Hindia, seperti yang kita seharusnya. Dan itu memang apa yang kita lakukan, dalam karya-karya lain yang lebih khusus dari kami mengenai topik menarik ini.

Demikian juga, Titan Atlas dan gunung, Mt. Atlas, ditempatkan di mana-mana, dari Hesperia (Spanyol), yang Canaries dan Morroco ke Bosporus dan Timur Jauh, pada batas-batas Hades (neraka). Hasilnya adalah íerjadinya Atlantises dan Tiang Atlas (atau Hercules) yang tidak masuk akal al semua. Memang, dua pahlawan yang dipersonifikasikan Pilar Dunia mewakili dua Atlantises kita diskusikan lebih jauh di atas. Mereka adalah dipersonifikasikan sebagai Atlas dan Hercules, Kembar purba yang kita jumpai dalam semua Cosmogonies.

Dalam dialog Plato tentang Atlantis (yang Critias dan Timaeus), Hercules disebut Gadeiros atau Eumelos, nama yang sesuai dengan sesuatu seperti "Cowboy" atau, lebih tepatnya "Fencer dari Sapi". Nama ini adalah terjemahan harfiah bahwa dari Setubandha, sebutan bahasa Sanskerta Indonesia. Nama ini disebabkan oleh kenyataan bahwa Indonesia memang "pagar keluar" lautan, membagi Pasifik dari Samudera Hindia.

yang Ultima Thule, si kembar, dan perang hari kiamat

Indonesia, seperti kami katakan di atas, Ultima Thule (atau "Ultimate Boundary") dari nenek moyang, batas terakhir yang tidak boleh menyeberang oleh navigator. Tergeletak Pilar Hercules dan Atlas, kedua primordial Kembar. Dalam bentuk samaran, kedua berhubungan dengan si kembar dari Gemini (Castor dan Pollux), langsung berasal dari Ashvin Kembar dari Hindu. Di Mesir, mereka berkirim surat pada Seth dan Osiris, dan diperingati oleh dua obelisk diposting di pintu masuk kuil-kuil Mesir.

Hercules adalah, tentu saja, seorang dewa Phoenix (Baal Melkart), pada gilirannya berasal dari Bala atau Bala-Rama ( "Rama yang kuat"), saudara kembar Kresna. Bala berarti "Kuat" atau "Kuat" dalam bahasa Sansekerta, dipanggil sama (Bias = "Kekuatan") dalam bahasa Yunani dan bahasa-bahasa lain. Krishna adalah World's Pilar, jelas personifikasi Atlantis.

Lebih tepatnya, si Kembar mewujudkan dua ras pirang (Aryo-Semit) dan brunets atau "merah" (Dravidas), ditakdirkan untuk melawan di mana pun mereka bertemu. Kedua warna ini berasal dari Eden (Lemuria), surga purba di mana kemanusiaan awalnya muncul. Osiris, dewa Mesir, juga memainkan peran Cosmic Pilar (Djed), peran dia bersama dengan Seth, saudara kembarnya dan dual. Namun mitos ini pada akhirnya simbolisme berasal dari Siwa sebagai Sthanu, yang "Tiang Dunia" dan bahwa dari Shesha (atau Vritra), Cosmic Serpent yang merupakan pola dasar Seth-Typhon.

pertempuran dari anak-anak terang dan anak-anak kegelapan

The Twins - seperti Deva dan Asura Hindu dan Anak-anak Terang dan Anak-anak Kegelapan dari Essenians - adalah selalu menjadi personifikasi dari dua ras yang sengketa hegemoni dunia sejak fajar kali. Itu adalah perang mereka, menurut Plato - yang menyebut mereka "Yunani" dan Atlantis - yang menuju kehancuran Atlantis.

Tidak ada alasan untuk meragukan bahwa filsuf besar itu memang transmisi tradisi kuno setia. Sebab, kita mulai belajar lagi bahwa perang global memang bisa mengarah ke ujung dunia. Bahkan, itu adalah perang tanpa akhir yang sama bahwa ancaman kita sekarang seperti yang terjadi pada awal kali. Kenyataan menakutkan ini diceritakan dalam Ramayana, dalam Mahabharata dan dalam Iliad, belum lagi mitos dan tradisi lain.

Tapi perang Atlantis juga Perang Armageddon diceritakan di dalam Kitab Wahyu. Perang ini sebenarnya adalah pengulangan atau replika dari seluruh dunia, primordial pertempuran antara Tuhan dan Setan. Makhluk-makhluk perkasa ini sama dengan yang disebut Titans (atau Giants) di Yunani. Perang mereka, seperti Plato dan para komentator menjelaskan secara rinci, sama dengan salah satu dari Atlantis.

Armageddon berarti (dalam bahasa Ibrani) sama dengan Shambhalla (dalam bahasa Sansekerta), "kata Plains Gathering". Ada tentara dunia akan berkumpul, pada akhir zaman, karena "perang yang mengakhiri semua perang", karena itu akan menutup Kali Yuga. Perspektif menakutkan tampaknya memang nyata, bukan benar-benar? Fables or Reality? Agama atau senonoh? Science atau Superstitious Omong kosong? Kita cenderung percaya bahwa nenek moyang kita berbicara dengan sungguh-sungguh, dan bahwa perang Armaggedon dan akhir dunia cepat menjadi terlalu nyata kemungkinan.

adalah mars dan venus contoh surgawi?

Kami tidak mau kelihatan alarmists, seperti pesan kami memang salah satu harapan dan keselamatan, dan bukan dari "Alkitab berdebar". Penemuan baru-baru ini sisa-sisa kehidupan di Mars punah membawa kenangan pelajaran yang bernilai detail. Earth telah, di masa lalu, para korban bencana yang tak terhitung jumlahnya hampir dihapuskan Life sama sekali. Cataclysms ini adalah karena penyebab yang berbeda seperti cometary dan asteroidal jatuh atau vulkanik membawa cataclysms atau menonaktifkan Ice Ages. Tidak mustahil, perang seperti Perang Atlantis dan Pertempuran Dewata dapat benar-benar telah terjadi pada yang jauh, benar-benar melupakan masa lalu yang hidup di dalam mitos dan tradisi suci dari mana-mana.

Mungkin kita hanya melanjutkan peperangan ini dan lain-lain yang mungkin terjadi di Mars dan Venus, menghancurkan Kehidupan di sana, kalau tidak dalam Sistem Solar lain juga. Bahkan mungkin terjadi bahwa Big Bangs dan Penciptaan memang siklus proses yang berulang secara periodik, sama seperti tradisi-tradisi Hindu pada era Siklus menegaskan secara rinci. Kepunahan dinosaurus, dan asal-usul Bulan - keluar dari bumi oleh dampak planetoidal - adalah contoh-contoh seperti cataclysms serius. Ribuan kawah raksasa - sama besar dengan orang-orang di Bulan, meskipun hampir dihapuskan oleh erosi - masih dapat diamati di bumi, sebagai ilmuwan mulai menemukan. Ratusan kali di masa lalu kita memiliki kepunahan besar Kehidupan di bumi.

Banyak kali di masa lalu dunia kita hampir menjadi seperti "kosong dan gelap dan tanpa bentuk" seperti di Penciptaan, ketika Allah mengubah bentuk bumi untuk terakhir kalinya. Yang uniformitarianisme Darwin dan Lyell tidak lebih daripada kepercayaan yang naif di Panglossian doktrin bahwa "segala sesuatu hanya terjadi untuk menjadi lebih baik, di terbaik dari semua kemungkinan dunia".

Fosil dan kepunahan di sini untuk membuktikan, seperti halnya Geologi dan ilmu-ilmu lain, bahwa Catastrophism adalah fitur Alam sebagai banyak, dan mungkin bahkan lebih, daripada fenomena Uniformitarian. Ribuan objek Apollo dan Amor kawanan di orbit bumi, siap menyerang kita pada saat itu juga dengan kekuatan satu juta megaton dan berakhir. Gagasan bahwa Allah nikmat manusia "di atas binatang-binatang di padang" adalah naif kita sendiri, egois gagasan tentang apa yang Allah akan terlihat seperti. Lebih mungkin, Dia menganggap semua Hidup sebagai sakral, sebagai hasil karya-Nya sendiri, jika Dia ada sama sekali. Itulah yang disangkal Alam menunjukkan dalam praktek sepanjang waktu.

Mars, dengan mati residu of Life, dengan lautan kosong dan kering, dengan badai debu yang mengerikan menyapu kehampaan dan kehancuran tanpa akhir, ada di sini untuk membuktikan kepada semua bahwa Tuhan - atau, seperti beberapa orang akan, Alam atau Ibu Pertiwi - kadang-kadang kehilangan / memadamkan amarahnya dan Kehidupan sama sekali. Ini hampir terjadi pada air bah, seperti mitos-mitos memberitahu kami. Yang victimizing Atlantis - mungkin karena mereka berdosa, mungkin karena mereka berperang - hampir mengambil sisa kita bersama. Venus adalah contoh lain, secara terbalik, bahwa planet-planet memang bisa mati dan menjadi seperti steril sebagai Bulan. Dan mungkin, bumi itu sendiri hanya "me-reset kembali ke nol" sekitar empat miliar tahun lalu, ketika Bulan ditarik keluar dari sana oleh dampak meteorit raksasa ukuran planetoidal.

Atlantis dan ilusi Darwin uniformitarianisme

Seperti kita hanya berkata, Darwin's Theory of Evolution adalah Uniformitarian hanya ilusi mati-keras para ilmuwan. Apa dunia menyajikan kita setiap hari adalah sebuah rangkaian tanpa akhir cataclysms semakin besar, mulai dari atom smashing ke Big Bang. Kami baru-baru ini mengamati sebuah komet menghantam Yupiter dan membuka luka di planet itu sebesar seluruh bumi. Mars menunjukkan semua tanda-tanda telah terkena berukuran planetoidal tubuh, yang membuka kawah besar di satu sisi dan mendorong Olympus Mons di seberang satu. Mungkin inilah bencana alam yang dipadamkan Kehidupan di Planet Merah. Venus juga menyajikan sisa-sisa bencana serupa. Mungkin kita hanya terdampar di bumi ini, ditakdirkan untuk menjadi punah ketika kita diberikan waktu berakhir siapa yang tahu kapan?

Hidup adalah ilusi, seperti segala sesuatu, sebagai orang Hindu mengajarkan kepada kita. Menurut mereka, bahkan para dewa akhirnya mati, dan diganti dengan yang lebih baik, lebih berkembang bentuk-bentuk yang saleh. Ilusi suprematist juga merupakan teori yang menegaskan bahwa Peradaban pertama muncul di sebuah Occidental Atlantis yang pernah ada, keluar dari Europoid saham. Tapi Peradaban berkembang pada saat seluruh Eropa sudah hampir sepenuhnya tertutup oleh gletser mil tebal yang membuat hidup sangat sedikit dan kurang.

Plato's Atlantis adalah, sebaliknya, digambarkan sebagai surga tropis yang mewah, dihiasi dengan logam, kuda, gajah, kelapa, nanas, parfum, aromatik hutan dan fitur-fitur lainnya yang merupakan kekhususan dari India dan Indonesia di dunia kuno. Apakah filsuf besar bermimpi, atau ia memang mendasarkan diri pada kitab suci yang kini hilang dalam api unggun Inkuisisi Suci?

Atlantis Atlantik adalah ilusi juga, sama seperti adalah Kreta, Afrika, Amerika, Eropa Utara dan Laut Hitam yang. Atlantis yang benar, yang pola dasar dari semua Atlantises lain adalah Indonesia, atau lebih tepatnya, yang luas benua cekung dikelilingi pulau ini busur. Sanalah kami telah Plato "innavigable laut", sama dengan yang disebutkan oleh navigator. seperti Pytheas, Himilco, Hanno dan lain-lain. Primordial inilah Atlantis yang berfungsi sebagai model untuk kedua Atlantis - salah satu dari Lembah Indus - dan juga bagi banyak sekali surga serupa lainnya yang kita hadapi dalam semua tradisi agama kuno dan mitologi.

Gunung Krakatau dan "laut innavigable" Atlantis

Tengah lainnya, fitur unik Atlantis itu dengan laut, diterjemahkan "innavigable" sebagai akibat dari bencana alam, seperti yang dilaporkan oleh Plato dan otoritas kuno lainnya. Seperti yang telah disebutkan di atas lebih lanjut, lautan Atlantis yang innavigable karena mereka tertutup tebal dengan bank raksasa mengambang, berapi-api-batu apung. Batu apung ini adalah dikeluarkan oleh ledakan raksasa vulkanik Mt. Atlas, salah satu yang menyebabkan foundering Benua yang hilang ..

Fenomena serupa sungguh terjadi - dalam skala yang jauh lebih kecil, tapi cukup besar untuk menjadi salah satu bencana terbesar di dunia - di ledakan gunung berapi Krakatau yang kami sebutkan di atas lebih lanjut. Pembentukan batu apung - berbatu semacam "buih" yang terbuat dari kaca silikous - adalah karakteristik dari gunung berapi Indonesia, dan memang penyebab letusan-letusan eksplosif mereka kekuatan tak tertandingi. Fenomena ini sangat mirip dengan "muncul" popcorn. Direndam air silikous kapal selam magma dari gunung berapi (yang Krakatau purba) yang dibangun di bawah tekanan luar biasa berat dan di atasnya kerak air laut. Akhirnya, lapisan kerak bumi yang membentuk puncak gunung berapi memberi, dan terjadi letusan, eksplosif.

Jadi dilepaskan, air panas terlarut dalam magma panas langsung berubah menjadi uap, secara harfiah meledak seperti popcorn, kecuali bahwa dalam skala dunia. Laut terdorong, dalam gelombang tsunami yang merupakan peristiwa mythified sebagai "air bah dari bawah". Secara bersamaan, abu dan puing-puing dilemparkan ke dalam stratosfer, sebagai "jelaga". Ini fly ash akhirnya jatuh kembali ke bumi dan laut, tersedak semua kehidupan di wilayah, dan menyebabkan hujan dalam jumlah sangat besar, "air bah dari atas". Lebih jauh, itu menyelimuti jaman es gletser, menyebabkan mencair dan memicu mereka akhir Pleistosen, persis seperti yang terkait di atas.

Yang cukup menarik, orang Hindu rekan-hal semacam ini - ini vitrous "seafroth" - dengan Kresna dan Baladewa, yang arketipe Hercules dan Atlas. Baladewa adalah alias Ular Shesha, yang namanya berarti (dalam bahasa Sansekerta) "residu" dan, lebih tepatnya, jenis busa seperti ambar atau dilempar batu apung di pantai oleh lautan. Seluruh cerita adalah alegori yang cerdas dari ledakan Mt. Atlas, World's Pilar, mendepak jumlah besar batu apung dan fly ash yang menutupi tanah dan laut Atlantis, dan tersedak keluar semua bentuk kehidupan paradisial.

The Titans - dan Atlas pada khususnya - yang disamakan dengan Ular (atau Naga), dan untuk "berkaki lemah", anguipedal, membudayakan Heroes seperti Erychthonios, Cadmus, Hercules, Quetzalcoatl, Kukulkan, dll. Semua memang seperti itu berasal dari Naga ( "Serpent-orang", "Naga") dari India dan Indonesia, seperti yang kita berdebat di tempat lain.

khayalan, tdk masuk akal atlantises

Seperti yang kami katakan di atas, Kreta "Atlantis" kewenangan tertentu adalah ilusi, seperti semua orang lain di luar dua Hindia. Namun demikian, ledakan dari gunung berapi Thera erat sejajar dengan salah satu Krakatau tahun 1883, karena beberapa telah mencatat. Tapi itu terlalu kecil dan terlalu keliru diletakkan dalam kaitannya dengan Pilar Hercules untuk menjadi yang tepat waktu dan tempat yang tepat.

Selain itu, Kreta tidak memiliki ukuran dan pentingnya bahwa Plato atribut untuk Atlantis, yang lemah dibandingkan dengan, katakanlah, peradaban kontemporer Mesir, Babel dan Mycenian Yunani. Dan bencana Theran pernah tenggelam Kreta dlm laut, atau bahkan dihambat keberadaannya dalam cara terkenal. Bahkan, nama Kreta (Kriti) berarti "menyapu", bukannya "cekung satu", seperti halnya nama Atlantis di lidah suci India. Jadi, Kreta adalah recognizedly "disapu" oleh Theran bencana alam, tetapi tidak benar-benar "tenggelam" oleh itu, sebagai Atlantis.

Prasejarah ledakan gunung berapi Krakatau yang terpisah membuka Selat Sunda itu, dengan perbandingan satu juta kali lebih kuat. Jika ledakan Theran bisa menyapu bersih cukup luas Minoan Crete, kita dibimbing untuk menyimpulkan bahwa salah satu gunung berapi Indonesia juga bisa menghapuskan seluruh benua-ukuran peradaban, dan telah memicu rangkaian peristiwa yang berpuncak pada akhirnya dari Pleistocene Ice Age.

Sama ilusi adalah Atlantises dari Bosporus (Moreau de Jonnés), Spanyol (R. Hennig), Libya (Borchardt), Benin, di Afrika (Leo Frobenius) dan bahkan kecil kemungkinan salah satu dari Laut Utara (Olaus Rudbeck ), Amerika (beberapa penulis) dan Antactica (idem). Bahkan lebih mustahil adalah cekung Atlantises terletak di pulau-pulau benua di Samudra Atlantik dan, khususnya, Laut Sargasso, karena mereka bahkan tidak kemungkinan geofisika.

mid-atlantic ridge dan Atlantis Donnelly

Tidak ada cekung benua di dasar Samudera Atlantik, sebagai suatu studi luas daerah ini telah tegas ditampilkan. Apa yang diungkapkan penelitian rinci adalah keberadaan Mid-Atlantic Ridge, kapal selam yang luas cordillera yang membagi Samudera Atlantik di tengah. Fitur ini sesuai dengan keretakan dari mana yang Tektonik masalah Pelat, menyebabkan benua melayang jauh dari tempat itu, dengan kecepatan beberapa sentimeter per tahun.

Oleh karena itu, meskipun permohonan brilian Ignatius Donnelly, ridge ini tidak sesuai dengan cekung benua, tetapi untuk tanah yang naik perlahan-lahan dari dasar laut. Seperti keretakan dan punggung sebenarnya ada di semua lautan. Mereka naik di atas permukaan laut di tempat-tempat tertentu membentuk busur pulau, seperti di Indonesia dan di Lembah Indus. Di mana mereka lakukan, mereka menyebabkan jenis gunung berapi dan gempa bumi yang mengerikan yang telah kita bahas di atas. Bukan suatu kebetulan bahwa kedua Atlantises kita sebutkan terletak persis pada tempat-tempat seperti Mid-Oceanic ridges naik di atas permukaan laut.

Ketika kami memeriksa peta Gambar. 1, kita juga mencatat bahwa sejumlah besar potongan india menghilang pada akhir jaman es di Delta Indus. Wilayah ini sekarang dikenal sebagai Rann Kutch ( "Rawa Kematian") dan pada kenyataannya masih tenggelam dlm laut, bahkan hari ini. Wilayah ini dianggap semacam neraka, dan telah jelas dibanjiri oleh beberapa jenis bencana alam mengerikan yang juga terjadi di akhir Pleistosen, seperti melakukan salah satu dari Lemurian Atlantis.

lemurian Atlantis dan empat sungai surga

Pada kesempatan ini, bahwa dari kematian Atlantis, gletser Himalaya mencair di sebagian besar, airnya mengalir menuruni Lembah Indus, dalam banjir yang ratusan kali lebih besar daripada yang sekarang, bahkan ketika musim hujan badai menghukum wilayah . Seperti itu jelas merupakan catatan yang ditinggalkan oleh badai yang menyapu Atlantis kedua (bintang sore), melemparkannya ke dalam laut selama kedua Bibel Banjir.

Hal yang sama juga terjadi di sisi lain Himalaya, isu dari mana sungai-sungai yang mengairi Asia Selatan, Cina dan Asia Tenggara, seperti Huang-ho, Sungai Yangtze, Mekong, Irrawaddy, Brahmaputra, Sungai Gangga. Ini memang Empat Sungai Eden (Lemurian Atlantis), sebagaimana kita berdebat secara rinci di tempat lain. Tidak dapat sangat sedikit keraguan bahwa Lemurian Atlantis - dan juga sebagai penerus, Atlantis India - adalah tradisi-tradisi suci berdasarkan fakta-fakta yang sebenarnya sama sekali tidak dilebih-lebihkan oleh nenek moyang kita.

para pahlawan dan peradaban Atlantis ######## adalah pelarian

Pertanyaan yang menyebabkan cataclysms dalam migrasi massa yang kemudian bangsa-bangsa itu untuk membentuk peradaban di masa lalu seperti orang Mesir, Yunani, Kreta dan Mesopotamia. Ini juga termasuk orang-orang Yahudi, yang Fenisia, dan bangsa Arya, diusir dari tanah leluhur mereka di Indonesia dan Asia Tenggara. Pada mulanya mereka menetap di India, tetapi diusir oleh penduduk setempat, bergerak ke tempat-tempat yang baru saja disebut.

Migrasi massal seperti diceritakan dalam Alkitab dan dalam kitab-kitab suci yang sama dari segala bangsa, dalam legenda-legenda seperti Musa dan Bani Israel, Eneas dan Roma, Hercules dan Yunani "sapi" (tentara), Kain pengusiran dari Eden, dari Quetzalcoatl kedatangan di Meksiko, itu dari Viracocha dan suku Inca di Peru, dari Fomorians dan Tuatha de Danaan tiba di Britania, dan seterusnya.

Legenda-legenda ini menyembunyikan fakta-fakta nyata di bawah selubung alegori, dan mewujudkan atau mendewakan bangsa-bangsa tersebut di bawah tokoh-tokoh pahlawan seperti Nuh, Manu, Hercules, Kukulkan, Abraham, Quetzalcoatl, dan segudang orang lain, atau dalam ##### # # # seperti Venus, Demeter, Dana, Danu, Vesta, Hathor, Isis, Hecate dan seterusnya. Lemuria memang Agung Hitam Ibu Dewa dan Manusia. Dia adalah dewi yang sama yang kita kenal dengan nama-nama seperti Kali, Parvati, Demeter, Hera, Isis, Ishtar, Venus, Cybele dan bahkan Perawan Maria.

Paradoksal keperawanan Bunda Agung mengacu pada kenyataan bahwa ia menanggung peradaban Lemurian sendiri, dalam cara yang asli, tanpa bantuan sebuah "inseminator" peradaban. Sebaliknya, semua peradaban lain berevolusi dengan menjadi unggulan dari luar oleh membudayakan Pahlawan, para malaikat, para dewa, para Setan, dll. Ini adalah Lemurian Anak-anak Allah itu, meskipun, menerangi dunia dengan cahaya Besar kita Ibu.

Atlantis kedua, India, adalah Bapa Besar kita. Bapa adalah yang dikenal sebagai inseminating Dewa Siwa di India, Jahveh di Israel, Zeus di Yunani, Viracocha di Peru, Quetzalcoatl di Meksiko, Bochica di Kolombia, dan seterusnya. Dia adalah dewa yang dikebiri dan mati tetapi yang resurrects dari antara orang mati, utuh dan jantan seperti biasa. Gambar tersebut bukan tanpa analogi dengan gunung berapi yang abadi seperti Krakatau yang meledak dan menghilang dari pandangan, namun tetap bersinar di bawah laut, sampai tiba waktunya untuk bangkit dan bersinar lagi, mungkin atas perintah Allah.

banyak aspek dewa

Seperti kita hanya berkata, mitos bekerja di beberapa tingkat, dan paralel seperti Atlantis hanya satu faset dari Allah berbagai aspek. Dengan kata lain, gunung berapi adalah manifestasi dari kuasa Allah, senjata ia sering memilih untuk menghukum bangsa-bangsa dan untuk memaksa Evolution untuk mengikuti kursus. Orang Hindu menyebut gaya ini dengan nama vajra, sebuah kata Sansekerta yang berarti baik "keras seperti berlian", serta "petir". The vajra adalah senjata petir digunakan oleh dewa mahakuasa seperti Baal (Hercules 'arketipe), Zeus, Indra, Haddad, dan segudang lainnya. Bahkan, Allah adalah baik vajra maupun gunung berapi, tapi kekuatan di balik itu, para pendorong dan wielder.

Untuk vajra memang yang memukul para dewa, Langit senjata Dia menggunakan dalam rangka untuk mempercepat Evolusi dan Alam bergerak dalam tindakan, dalam parade tanpa akhir bentuk kehidupan yang menjadi ciri Life. Mungkin semua ini memiliki tujuan dalam hati nurani ilahi, meskipun aku tidak benar-benar tahu pasti. Tetapi tidak ada keraguan dalam pikiran saya bahwa Catastrophism adalah cara Allah, jika Dia memang sudah ada. Selain itu, juga Alam jalan, janganlah ada orang yang meragukannya. Orang dahulu juga tahu itu, dan begitu juga aku, setelah belajar dari mereka. Misalnya, mereka sering digambarkan sebagai yang vajra memukul atau mencaci, atau bahkan palu atau gada yang dikerahkan oleh dewa untuk mengaduk Alam ke dalam tindakan.

Dewa-dewa seperti Kristus bukan satu-satunya yang mati dan bangkit kembali dari kematian. By the way, Kristus juga adalah wielder dari "besi", yang paling sulit logam menjadi metafora untuk "berlian" dan, karenanya, untuk vajra. Christ didahului oleh banyak alias, dan konsep "mati-bangkit" mirip dengan dewa Matahari Kehakiman tanggal dari yang terlama kuno. Di antara banyak arketipe Kristus kita dapat menyebutkan, begitu saja, Osiris, Attis, Tammuz, Adonis, Shiva, Kronos, Saturnus, Dionysos, Serapis, Mithra dan, tentu saja, Kresna, dalam serangkaian avatar tak terbatas, dan Hercules, besar pahlawan, dalam pendewaan berapi-api yang menduga kebakaran di Atlantis.

Gelas 1 Tektites adalah manik-manik dan concretions dihasilkan dari meteorit raksasa (atau cometary) turun atau, mungkin, dari ledakan gunung berapi raksasa juga. Tabrakan tektites ini tersebar jauh dan luas, seperti dalam kasus di atas. Pertanyaan yang ada di disebut Indochinites, dalam acuan kepada daerah di mana mereka yang paling berlimpah. Para Indochinites adalah tanggal pada 700 kyears (satu kiloyear = seribu tahun). Ledakan Danau Toba terjadi 75 kyears lalu. Yang bahkan lebih besar dari Danau Taupo terjadi di sekitar 100 kyears lalu atau lebih.

Ledakan raksasa ini - yang semuanya terjadi di wilayah Indonesia, vulkanik paling aktif di seluruh dunia - yang cukup besar untuk memicu Ice Age. Namun, apakah seseorang itu memang disebabkan tergantung pada kondisi lain, mungkin didikte oleh insolation dan variabel lain, astronomi atau tidak. Seperti kita hanya berkata, wilayah Indonesia memiliki ratusan gunung berapi aktif atau tidak aktif, dan telah sangat sedikit diteliti sejauh ini, karena yang terpencil.

Penelitian lebih lanjut dari wilayah Indonesia akan, sekarang hubungannya dengan tempat kelahiran Manusia sedang menunjuk keluar, tentu mengkonfirmasi realitas apa yang kita mengklaim. Riset kami didasarkan pada tradisi lokal yang sangat rinci dan merupakan buah dari bertahun-tahun studi tentang mitos Atlantis-Eden dari meskipun tidak bias ilmiah, sudut pandang. Kami mendorong tidak ada agama, ilmiah, filsafat atau titik tentara bayaran, dan kepentingan kita semata-mata terletak dalam menetapkan kebenaran. Ketika Roma sering berkata, Amicus Plato, magis amica Veritas.


misteri dari atlantis kota yang hilang

Atlantis, Sebuah Misteri yang Abadi

Mitos tentang Peradaban Atlantis pertama kali dicetuskan oleh seorang filsafat Yunani kuno bernama Plato (427 - 347 SM) dalam buku Critias dan Timaeus.

Dalam buku Timaeus Plato menceritakan bahwa dihadapan selat Mainstay Haigelisi, ada sebuah pulau yang sangat besar, dari sana kalian dapat pergi ke pulau lainnya,
di depan pulau-pulau itu adalah seluruhnya daratan yang dikelilingi laut samudera, itu adalah kerajaan Atlantis. Ketika itu Atlantis baru akan melancarkan perang besar dengan Athena, namun di luar dugaan Atlantis tiba-tiba mengalami gempa bumi dan banjir, tidak sampai sehari semalam, tenggelam sama sekali di dasar laut, negara besar yang melampaui peradaban tinggi, lenyap dalam semalam.

Dibagian lain pada buku Critias adalah adik sepupu dari Critias mengisahkan tentang Atlantis. Critias adalah murid dari ahli filsafat Socrates, tiga kali ia menekankan keberadaan Atlantis dalam dialog. Kisahnya berasal dari cerita lisan Joepe yaitu moyang lelaki Critias, sedangkan Joepe juga mendengarnya dari seorang penyair Yunani bernama Solon (639-559 SM).
Solon adalah yang paling bijaksana di antara 7 mahabijak Yunani kuno, suatu kali ketika Solon berkeliling Mesir, dari tempat pemujaan makam leluhur mengetahui legenda Atlantis.

Garis besar kisah pada buku tersebut Ada sebuah daratan raksasa di atas Samudera Atlantik arah barat Laut Tengah yang sangat jauh, yang bangga dengan peradabannya yang menakjubkan. Ia menghasilkan emas dan perak yang tak terhitung banyaknya. Istana dikelilingi oleh tembok emas dan dipagari oleh dinding perak. Dinding tembok dalam istana bertahtakan emas, cemerlang dan megah. Di sana, tingkat perkembangan
peradabannya memukau orang. Memiliki pelabuhan dan kapal dengan perlengkapan yang sempurna, juga ada benda yang bisa membawa orang terbang. Kekuasaannya tidak hanya terbatas di Eropa, bahkan jauh sampai daratan Afrika. Setelah dilanda gempa dahsyat,
tenggelamlah ia ke dasar laut beserta peradabannya, juga hilang dalam ingatan orang-orang.

Jika dibaca dari sepenggal kisah diatas maka kita akan berpikiran bahwa Atlantis merupakan sebuah peradaban yang sangat memukau. Dengan teknologi dan ilmu pengetahuan pada waktu itu sudah menjadikannya sebuah bangsa yang besar dan mempunyai kehidupan yang makmur.
Tapi kemudian saya mempunyai pertanyaan, apakah itu hanya sebuah cerita untuk pengantar tidur pada jamannya Plato atau memang Plato mempunyai bukti2 kuat dan otentik bahwa atlantis itu benar-benar pernah ada dalam kehidupan di bumi ini?

Terdapat beberapa catatan tentang usaha para ilmuwan dan orang-orang dalam pencarian untuk membuktikan bahwa Atlantis itu benar-benar pernah ada.

Menurut perhitungan versi Plato waktu tenggelamnya kerajaan Atlantis, kurang lebih 11.150 tahun yang silam. Plato pernah beberapa kali mengatakan, keadaan kerajaan Atlantis diceritakan turun-temurun. Sama sekali bukan rekaannya sendiri. Plato bahkan pergi ke Mesir minta petunjuk biksu dan rahib terkenal setempat waktu itu. Guru Plato yaitu Socrates ketika membicarakan tentang kerajaan Atlantis juga
menekankan, karena hal itu adalah nyata, nilainya jauh lebih kuat dibanding kisah yang direkayasa.

Jika semua yang diutarakan Plato memang benar-benar nyata, maka sejak 12.000 tahun silam, manusia sudah menciptakan peradaban. Namun di manakah kerajaan Atlantis itu? Sejak ribuan tahun silam orang-orang menaruh minat yang sangat besar terhadap hal ini. Hingga abad ke-20 sejak tahun 1960-an, laut Bermuda yang terletak di bagian barat Samudera Atlantik, di kepulauan Bahama, dan laut di sekitar kepulauan
Florida pernah berturut-turut diketemukan keajaiban yang menggemparkan dunia.

Suatu hari di tahun 1968, kepulauan Bimini di sekitar Samudera Atlantik di gugusan Pulau Bahama, laut tenang dan bening bagaikan kaca yang terang, tembus pandang
hingga ke dasar laut. Beberapa penyelam dalam perjalanan kembali ke kepulauan Bimini, tiba-tiba ada yang menjerit kaget. Di dasar laut ada sebuah jalan besar! Beberapa penyelam secara bersamaan terjun ke bawah, ternyata memang ada sebuah jalan besar membentang tersusun dari batu raksasa. Itu adalah sebuah jalan besar yang dibangun dengan menggunakan batu persegi panjang dan poligon, besar kecilnya batu
dan ketebalan tidak sama, namun penyusunannya sangat rapi, konturnya cemerlang. Apakah ini merupakan jalan posnya kerajaan Atlantis?

Awal tahun ‘70-an disekitar kepulauan Yasuel Samudera Atlantik, sekelompok peneliti
telah mengambil inti karang dengan mengebor pada kedalaman 800 meter di dasar laut, atas ungkapan ilmiah, tempat itu memang benar-benar sebuah daratan pada 12.000 tahun silam. Kesimpulan yang ditarik atas dasar teknologi ilmu pengetahuan, begitu mirip seperti yang dilukiskan Plato! Namun, apakah di sini tempat tenggelamnya kerajaan Atlantis?

Tahun 1974, sebuah kapal peninjau laut Uni Soviet telah membuat 8 lembar foto yang jika disarikan membentuk sebuah bangunan kuno mahakarya manusia.
Apakah ini dibangun oleh orang Atlantis?

Tahun 1979, ilmuwan Amerika dan Perancis dengan peranti instrumen yang sangat canggih menemukan piramida di dasar laut “segitiga maut” laut Bermuda.
Panjang piramida kurang lebih 300 meter, tinggi kurang lebih 200 meter, puncak piramida dengan permukaan samudera hanya berjarak 100 meter, lebih besar dibanding piramida Mesir. Bagian bawah piramida terdapat dua lubang raksasa, air laut dengan kecepatan yang menakjubkan mengalir di dasar lubang.
Piramida besar ini, apakah dibangun oleh orang-orang Atlantis? Pasukan kerajaan Atlan pernah menaklukkan Mesir, apakah orang Atlantis membawa peradaban piramida ke Mesir? Benua Amerika juga terdapat piramida, apakah berasal dari Mesir atau berasal dari kerajaan Atlantis?

Tahun 1985, dua kelasi Norwegia menemukan sebuah kota kuno di bawah areal laut “segitiga maut”. Pada foto yang dibuat oleh mereka berdua, ada dataran, jalan
besar vertikal dan horizontal serta lorong, rumah beratap kubah, gelanggang aduan (binatang), kuil, bantaran sungai dll. Mereka berdua mengatakan mutlak percaya terhadap apa yang mereka temukan itu adalah Benua Atlantis seperti yang dilukiskan oleh Plato. Benarkah itu?

Yang lebih menghebohkan lagi adalah penelitian yang dilakukan oleh Aryso Santos, seorang ilmuwan asal Brazil. Santos menegaskan bahwa Atlantis itu adalah wilayah yang sekarang ini disebut Indonesia.
Dalam penelitiannya selama 30 tahun yang ditulis dalam sebuah buku “Atlantis, The Lost Continent Finally Found, The Definitifve Localization of Plato’s Lost Civilization” dia menampilkan 33 perbandingan, seperti luas wilayah, cuaca, kekayaan alam, gunung berapi, dan cara bertani, yang akhirnya menyimpulkan bahwa Atlantis itu adalah Indonesia. Sistem terasisasi sawah yang khas Indonesia, menurutnya, ialah bentuk yang diadopsi oleh Candi Borobudur, Piramida di Mesir, dan bangunan kuno Aztec di Meksiko.

Santos menetapkan bahwa pada masa lalu Atlantis itu merupakan benua yang membentang dari bagian selatan India, Sri Lanka, Sumatra, Jawa, Kalimantan, terus ke arah timur dengan Indonesia (yang sekarang) sebagai pusatnya. Di wilayah itu terdapat puluhan gunung berapi yang aktif dan dikelilingi oleh samudera yang menyatu bernama Orientale, terdiri dari Samudera Hindia dan Samudera Pasifik.

Sedangkan menurut Plato Atlantis merupakan benua yang hilang akibat letusan gunung berapi yang secara bersamaan meletus. Pada masa itu sebagian besar bagian dunia masih diliput oleh lapisan-lapisan es (era Pleistocene). Dengan meletusnya berpuluh-puluh gunung berapi secara bersamaan yang sebagian besar terletak di wilayah Indonesia (dulu) itu, maka tenggelamlah sebagian benua dan diliput oleh air asal dari es yang mencair. Di antaranya letusan gunung Meru di India Selatan dan gunung Semeru/Sumeru/Mahameru di Jawa Timur. Lalu letusan gunung berapi di Sumatera yang membentuk Danau Toba dengan pulau Somasir, yang merupakan puncak gunung yang meletus pada saat itu. Letusan yang paling dahsyat di kemudian hari adalah gunung Krakatau (Krakatoa) yang memecah bagian Sumatera dan Jawa dan lain-lainnya serta membentuk selat dataran Sunda.

Santos berbeda dengan Plato mengenai lokasi Atlantis. Ilmuwan Brazil itu berargumentasi, bahwa pada saat terjadinya letusan berbagai gunung berapi itu, menyebabkan lapisan es mencair dan mengalir ke samudera sehingga luasnya bertambah. Air dan lumpur berasal dari abu gunung berapi tersebut membebani samudera dan dasarnya, mengakibatkan tekanan luar biasa kepada kulit bumi di dasar samudera, terutama pada pantai benua. Tekanan ini mengakibatkan gempa. Gempa ini diperkuat lagi oleh gunung-gunung yang meletus kemudian secara beruntun dan menimbulkan gelombang tsunami yang dahsyat. Santos menamakannya Heinrich Events.

Dalam usaha mengemukakan pendapat mendasarkan kepada sejarah dunia, tampak Plato telah melakukan dua kekhilafan, pertama mengenai bentuk/posisi bumi yang katanya datar. Kedua, mengenai letak benua Atlantis yang katanya berada di Samudera Atlantik yang ditentang oleh Santos. Penelitian militer Amerika Serikat di wilayah Atlantik terbukti tidak berhasil menemukan bekas-bekas benua yang hilang itu. Oleh karena itu tidaklah semena-mena ada peribahasa yang berkata, “Amicus Plato, sed magis amica veritas.” Artinya,”Saya senang kepada Plato tetapi saya lebih senang kepada kebenaran.”

Namun, ada beberapa keadaan masa kini yang antara Plato dan Santos sependapat. Yakni pertama, bahwa lokasi benua yang tenggelam itu adalah Atlantis dan oleh Santos dipastikan sebagai wilayah Republik Indonesia. Kedua, jumlah atau panjangnya mata rantai gunung berapi di Indonesia. Di antaranya ialah Kerinci, Talang, Krakatoa, Malabar, Galunggung, Pangrango, Merapi, Merbabu, Semeru, Bromo, Agung, Rinjani. Sebagian dari gunung itu telah atau sedang aktif kembali.

Ini ada lagi yang lebih unik dari Santos dan kawan-kawan tentang usaha untuk menguak misteri Atlantis. Sarjana Barat secara kebetulan menemukan seseorang yang mampu mengingat kembali dirinya sebagai orang Atlantis di kehidupan sebelumnya “Inggrid Benette”. Beberapa penggal kehidupan dan kondisi sosial dalam ingatannya masih membekas, sebagai bahan masukan agar bisa merasakan secara gamblang peradaban tinggi Atlantis. Dan yang terpenting adalah memberikan kita petunjuk tentang mengapa Atlantis musnah. Di bawah ini adalah ingatan Inggrid Bennette.

Kehidupan yang Dipenuhi Kecerdasan
Dalam kehidupan sebelumnya di Atlantis, saya adalah seorang yang berpengetahuan luas, dipromosikan sebagai kepala energi wanita “Pelindung Kristal” (setara dengan seorang kepala pabrik pembangkit listrik sekarang). Pusat energi ini letaknya pada sebuah ruang luas yang bangunannya beratap lengkung. Lantainya dari pasir dan batu tembok, di tengah-tengah kamar sebuah kristal raksasa diletakkan di atas alas dasar hitam. Fungsinya adalah menyalurkan energi ke seluruh kota. Tugas saya melindungi kristal tersebut. Pekerjaan ini tak sama dengan sistem operasional pabrik sekarang, tapi dengan menjaga keteguhan dalam hati, memahami jiwa sendiri, merupakan bagian penting dalam pekerjaan, ini adalah sebuah instalasi yang dikendalikan dengan jiwa. Ada seorang lelaki yang cerdas dan pintar, ia adalah “pelindung” kami, pelindung lainnya wanita.

Rambut saya panjang berwarna emas, rambut digelung dengan benda rajutan emas, persis seperti zaman Yunani. Rambut disanggul tinggi, dengan gulungan bengkok jatuh bergerai di atas punggung. Setiap hari rambutku ditata oleh ahli penata rambut, ini adalah sebagian pekerjaan rutin. Filsafat yang diyakini orang Atlantis adalah bahwa “tubuh merupakan kuilnya jiwa”, oleh karena itu sangat memperhatikan kebersihan tubuh dan cara berbusana, ini merupakan hal yang utama dalam kehidupan. Saya mengenakan baju panjang tembus pandang, menggunakan daun pita emas yang diikat di pinggang belakang setelah disilang di depan dada. Lelaki berpakaian rok panjang juga rok pendek, sebagian orang memakai topi, sebagian tidak, semuanya dibuat dengan bahan putih bening yang sama. Seperti pakaian seragam, namun di masa itu, sama sekali tidak dibedakan, mengenakan ini hanya menunjukkan sebuah status, melambangkan kematangan jiwa raga kita. Ada juga yang mengenakan pakaian warna lain, namun dari bahan bening yang sama, mereka mengenakan pakaian yang berwarna karena bertujuan untuk pengobatan. Hubungannya sangat besar dengan ketidakseimbangan pusat energi tubuh, warna yang spesifik memiliki fungsi pengobatan.

Berkomunikasi dengan Hewan
Saya sering pergi mendengarkan nasihat lumba-lumba. Lumba-lumba hidup di sebuah tempat yang dibangun khusus untuk mereka. Sebuah area danau besar yang indah, mempunyai undakan raksasa yang menembus ke tengah danau. Pilar dua sisi undakan adalah tiang yang megah, sedangkan area danau dihubungkan dengan laut melalui terusan besar. Di siang hari lumba-lumba berenang di sana, bermain-main, setelah malam tiba kembali ke lautan luas. Lumba-lumba bebas berkeliaran, menandakan itu adalah tempat yang sangat istimewa. Lumba-lumba adalah sahabat karib dan penasihat kami. Mereka sangat pintar, dan merupakan sumber keseimbangan serta keharmonisan masyarakat kami. Hanya sedikit orang pergi mendengarkan bahasa intelek lumba-lumba. Saya sering berenang bersama mereka, mengelus mereka, bermain-main dengan mereka, serta mendengarkan nasihat mereka. Kami sering bertukar pikiran melalui telepati. Energi mereka membuat saya penuh vitalitas sekaligus memberiku kekuatan. Saya dapat berjalan-jalan sesuai keinginan hati, misalnya jika saya ingin pergi ke padang luas yang jauh jaraknya, saya memejamkan mata dan memusatkan pikiran pada tempat tersebut. Akan ada suatu suara “wuung” yang ringan, saya membuka mata, maka saya sudah berada di tempat itu.

Saya paling suka bersama dengan Unicorn (kuda terbang). Mereka sama seperti kuda makan rumput di padang belantara. Unicorn memiliki sebuah tanduk di atas kepalanya, sama seperti ikan lumba-lumba, kami kontak lewat hubungan telepati. Secara relatif, pikiran Unicorn sangat polos. Kami acap kali bertukar pikiran, misalnya, “Aku ingin berlari cepat”. Unicorn akan menjawab: “Baiklah”. Kita lari bersama, rambut kami berterbangan tertiup angin. Jiwa mereka begitu tenang, damai menimbulkan rasa hormat. Unicorn tidak pernah melukai siapa pun, apalagi mempunyai pikiran atau maksud jahat, ketika menemui tantangan sekalipun akan tetap demikian.

Saya sering kali merasa sedih pada orang zaman sekarang, sebab sama sekali tidak percaya dengan keberadaan hewan ini, ada seorang pembina jiwa mengatakan kepadaku: “Saat ketika kondisi dunia kembali pada keseimbangan dan keharmonisan, semua orang saling menerima, saling mencintai, saat itu Unicorn akan kembali”.

Lingkungan yang Indah Permai
Di timur laut Atlantis terdapat sebidang padang rumput yang sangat luas. Padang rumput ini menyebarkan aroma wangi yang lembut, dan saya suka duduk bermeditasi di sana. Aromanya begitu hangat. Kegunaan dari bunga segar sangat banyak, maka ditanam secara luas. Misalnya, bunga yang berwarna biru dan putih ditanam bersama, ini bukan saja sangat menggoda secara visual, sangat dibutuhkan buat efektivitas getaran. Padang rumput ini dirawat oleh orang yang mendapat latihan khusus dan berkualitas tinggi serta kaya pengetahuan. “Ahli ramuan” mulai merawat mereka sejak tunas, kemudian memetik dan mengekstrak sari pati kehidupannya.

Di lingkungan kerja di Atlantis, jarang ada yang berposisi rendah. Serendah apa pun pekerjaannya, tetap dipandang sebagai anggota penting di dalam masyarakat kami. Masyarakat terbiasa dengan menghormati dan memuji kemampuan orang lain. Yang menanam buah, sayur-mayur, dan penanam jenis kacang-kacangan juga hidup di timur laut. Sebagian besar adalah ahli botani, ahli gizi dan pakar makanan lainnya. Mereka bertanggung jawab menyediakan makanan bagi segenap peradaban kami.

Sebagian besar orang ditetapkan sebagai pekerja fisik, misalnya tukang kebun dan tukang bangunan. Hal itu akan membuat kondisi tubuh mereka tetap stabil. Sebagian kecil dari mereka mempunyai kecerdasan, pengaturan pekerjaan disesuaikan dengan tingkat perkembangan kecerdasan mereka. Orang Atlantis menganggap, bahwa pekerjaan fisik lebih bermanfaat, ini membuat emosi (perasaan) mereka mendapat keseimbangan, marah dan suasana hati saat depresi dapat diarahkan secara konstruktif, lagi pula tubuh manusia terlahir untuk pekerjaan fisik, hal tersebut telah dibuktikan. Namun, selalu ada pengecualian, misalnya lelaki yang kewanitaan atau sebaliknya, pada akhirnya, orang pintar akan membimbing orang-orang ini bekerja yang sesuai dengan kondisi mereka. Setiap orang akan menuju ke kecerdasan, berperan sebagai tokoh sendiri, semua ini merupakan hal yang paling mendasar.

Seluruh kehidupan Atlantis merupakan himpunan keharmonisan yang tak terikat secara universal bagi tumbuh-tumbuhan, mineral, hewan dan sayur-mayur. Setiap orang merupakan partikel bagiannya, setiap orang tahu, bahwa pengabdian mereka sangat dibutuhkan. Di Atlantis tidak ada sistem keuangan, hanya ada aktivitas perdagangan. Kami tidak pernah membawa dompet atau kunci dan sejenisnya. Jarang ada keserakahan atau kedengkian, yang ada hanya kebulatan tekad.

Teknologi yang Tinggi
Di Atlantis ada sarana terbang yang modelnya mirip “piring terbang” (UFO), mereka menggunakan medan magnet mengendalikan energi perputaran dan pendaratan, sarana hubungan jenis ini biasa digunakan untuk perjalanan jarak jauh. Perjalanan jarak pendek hanya menggunakan katrol yang dapat ditumpangi dua orang. Ia mempunyai sebuah mesin yang mirip seperti kapal hidrofoil, prinsip kerja sama dengan alat terbang, juga menggunakan medan energi magnet. Yang lainnya seperti makanan, komoditi rumah tangga atau barang-barang yang berukuran besar, diangkut dengan cara yang sama menggunakan alat angkut besar yang disebut “Subbers.”

Atlantis adalah sebuah peradaban yang sangat besar, kami berkomunikasi menggunakan kapal untuk menyiarkan berita ke berbagai daerah. Sebagian besar informasi diterima oleh “orang pintar” melalui respons batin, mereka memiliki kemampuan menerima dengan cara yang istimewa, ini mirip dengan stasiun satelit penerima, dan sangat akurat. Maka, pekerjaan mereka adalah duduk dan menerima informasi yang disalurkan dari tempat lain. Sebenarnya, dalam pekerjaan, cara saya mengoperasikan kristal besar, juga dikerjakan melalui hati.

Pengobatan yang Maju
Dalam peradaban ini, tidak ada penyakit yang parah. Metode pengobatan yang digunakan, semuanya menggunakan kristal, warna, musik, wewangian dan paduan ramuan, dengan mengembangkan efektivitas pengobatan secara keseluruhan.

Pusat pengobatan adalah sebuah tempat yang banyak kamarnya. Saat penderita masuk, sebuah warna akan dicatat di tembok. Lalu pasien diarahkan ke sebuah kamar khusus untuk menentukan pengobatan. Di kamar pertama, asisten yang terlatih baik dan berpengetahuan luas tentang pengobatan akan mendeteksi frekwensi getaran pada tubuh pasien. Informasi dialihkan ke kamar lainnya. Di kamar tersebut, sang pasien akan berbaring di atas granit yang datar, sedangkan asisten lainnya akan mengatur rancangan pengobatan yang sesuai untuk pasien.

Setelah itu, kamar akan dipenuhi musik terapi, kristal khusus akan diletakkan di pasien. Seluruh kamar penuh dengan wewangian yang lembut, terakhir akan tampak sebuah warna. Selanjutnya, pasien diminta merenung, agar energi pengobatan meresap ke dalam tubuh. Dengan demikian, semua indera yang ada akan sehat kembali, “warna” menyembuhkan indera penglihatan, “aroma tumbuh-tumbuhan” menyembuhkan indera penciuman, “musik yang merdu” menyembuhkan indera pendengaran, dan terakhir, “air murni” menyembuhkan indera perasa. Saat meditasi selesai, harus minum air dari tabung. Energinya sangat besar, bagaikan seberkas sinar, menyinari tubuh dari atas hingga ke bawah. Seluruh tubuh bagai telah terpenuhi. Teknik pengobatan selalu berkaitan dengan “medan magnet” dan “energi matahari” , sekaligus merupakan pengobatan secara fisik dan kejiwaan.

Pendidikan Anak yang Ketat
Saat bayi masih dalam kandungan, sudah diberikan suara, musik serta bimbingan kecerdasan pada zaman itu. Semasa dalam kandungan, “orang pintar” akan memberikan pengarahan kepada orang tua sang calon anak. Sejak sang bayi lahir, orang tua merawat dan mendidiknya di rumah, menyayangi dan mencintai anak mereka. Di siang hari, anak-anak akan dititipkan di tempat penitipan anak, mendengar musik di sana, melihat getaran warna dan cerita-cerita yang berhubungan dengan cara berpikiran positif dan kisah bertema filosofis.

Pusat pendidikan anak, terdapat di setiap tempat. Anak-anak dididik untuk menjadi makhluk hidup yang memiliki inteligensi sempurna. Belajar membuka pikiran, agar jasmani dan rohani mereka bisa bekerja sama. Di tahap perkembangan anak, orang pintar memegang peranan yang sangat besar, pendidik mempunyai posisi terhormat dalam masyarakat Atlantis, biasanya baru bisa diperoleh ketika usia mencapai 60-120 tahun, tergantung pertumbuhan inteligensi. Dan merupakan tugas yang didambakan setiap orang.

Di seluruh wilayah, setiap orang menerima pendidikan sejak usia 3 tahun. Mereka menerima pendidikan di dalam gedung bertingkat. Di depan gedung sekolah terdapat lambang pelangi, pelangi adalah lambang pusat bimbingan. Pelajaran utamanya adalah mendengar dan melihat. Sang murid santai berbaring atau duduk, sehingga ruas tulang belakang tidak mengalami tekanan. Metode lainnya adalah merenung, mata ditutup dengan perisai mata, dalam perisai mata ditayangkan berbagai macam warna. Pada kondisi merenung, metode visualisasi seperti ini sangat efektif. Bersamaan itu juga diberi pita kaset bawah sadar. Saat tubuh dan otak dalam keadaan rileks, pengetahuan mengalir masuk ke bagian memori otak besar. Ini merupakan salah satu metode belajar yang paling efektif, sebab ia telah menutup semua jalur informasi yang dapat mengalihkan perhatian. “Orang pintar” membimbing si murid, tergantung tingkat kemampuan menyerap sang anak, dan memudahkan melihat bakat tertentu yang dimilikinya. Dengan begini, setiap anak memiliki kesempatan yang sama mengembangkan potensinya.

Pemikiran maju yang positif dan frekwensi getaran merupakan kunci utama dalam masa belajar dan meningkatkan/mendorong wawasan sanubari terbuka. Semakin tinggi tingkat frekwensi getaran pada otak, maka frekwensi getaran pada jiwa semakin tinggi. Semakin positif kesadaran inheren, maka semakin mencerminkan kesadaran ekstrinsik maupun kesadaran terpendam. Ketika keduanya serasi, akan membuka wawasan dunia yang positif: Jika keduanya tidak serasi, maka orang akan hanyut pada keserakahan dan kekuasaan. Bagi orang Atlantis, mengendalikan daya pikir orang lain adalah cara hidup yang tak beradab, dan ini tidak dibenarkan.

Dalam buku sejarah kami, kami pernah merasa tidak aman dan tenang. Karakter leluhur kami yang tak beradab masih saja mempengaruhi masyarakat kami waktu itu. Misalnya, memilih binatang untuk percobaan. Namun, kaidah inteligensi dengan keras melarang mencampuri kehidupan orang lain. Meskipun kita tahu ada risikonya, namun kita tidak boleh memaksa atau menghukum orang lain, sebab setiap orang harus bertanggung jawab atas perkembangan sanubarinya sendiri. Pada masyarakat itu, rasa tidak aman adalah demi untuk mendapatkan keamanan. Filsafat seperti ini sangat baik, dan sangat dihormati orang-orang ketika itu, ia adalah pelindung kami.

Kiamat yang Melanda Atlantis
Saya tidak bersuami. Pada waktu itu, orang-orang tidak ada ikatan perkawinan. Jika Anda bermaksud mengikat seseorang, maka akan melaksanakan sebuah upacara pengikatan. Pengikatan tersebut sama sekali tidak ada efek hukum atau kekuatan yang mengikat, hanya berdasarkan pada perasaan hati. Kehidupan seks orang Atlantis sangat dinamis untuk mempertahankan kesehatan. Saya memutuskan hidup bersamanya berdasarkan kesan akan seks, inteligensi dan daya tarik. Di masa itu, seks merupakan sebuah bagian penting dalam kehidupan, seks sama pentingnya dengan makan atau tidur. Ini adalah bagian dari “keberadaan hidup secara keseluruhan”, lagi pula tubuh kami secara fisik tidak menampakkan usia kami, umumnya kami dapat hidup hingga berusia 200 tahun lamanya.

Ada juga yang orang berhubungan seks dengan hewan, atau dengan setengah manusia separuh hewan, misalnya, tubuh seekor kuda yang berkepala manusia. Di saat itu, orang Atlantis dapat mengadakan transplantasi kawin silang, demi keharmonisan manusia dan hewan pada alam, namun sebagian orang melupakan hal ini, titik tolak tujuan mereka adalah seks. Orang yang sadar mengetahui bahwa ini akan mengakibatkan ketidakseimbangan pada masyarakat kami, orang-orang sangat cemas dan takut terhadap hal ini, tetapi tidak ada tindakan preventif. Ini sangat besar hubungannya dengan keyakinan kami, manusia memiliki kebebasan untuk memilih, dan seseorang tidak boleh mengganggu pertumbuhan inteligensi orang lain. Orang yang memilih hewan sebagai lawan main, biasanya kehilangan keseimbangan pada jiwanya, dan dianggap tidak matang.

Teknologi Maju yang Lalim
Pada masa kehidupan saya, kami tahu Atlantis telah sampai di pengujung ajal. Di antara kami ada sebagian orang yang tahu akan hal ini, namun, adalah sebagian besar orang sengaja mengabaikannya, atau tidak tertarik terhadap hal ini. Unsur materiil telah kehilangan keseimbangan. Teknologi sangat maju. Misalnya, polusi udara dimurnikan, suhu udara disesuaikan. Majunya teknologi, hingga kami mulai mengubah komposisi udara dan air. Terakhir ini menyebabkan kehancuran Atlantis.

Empat unsur pokok yakni: angin, air, api, dan tanah adalah yang paling fundamental dari galaksi dan bumi kami ini, basis materiil yang paling stabil. Mencoba menyatukan atau mengubah unsur pokok ini telah melanggar hukum alam. Ilmuwan bekerja dan hidup di bagian barat Atlantis, mereka “mengalah” pada keserakahan, demi kekuasaan dan kehormatan pribadi bermaksud “mengendalikan” 4 unsur pokok. Kini alam tahu, hal ini telah mengakibatkan kehancuran total. Mereka mengira dirinya di atas orang lain, mereka berkhayal sebagai tokoh Tuhan, ingin mengendalikan unsur pokok dasar pada bintang tersebut.

Menjelang Hari Kiamat
Ramalan “kiamat” pernah beredar secara luas, namun hanya orang yang pintar dan yang mengikuti jalan spritual yang tahu penyebabnya. Akhir dari peradaban kami hanya disebabkan oleh segelintir manusia! Ramalan mengatakan: “Bumi akan naik, Daratan baru akan muncul, semua orang mulai berjuang lagi. Hanya segelintir orang bernasib mujur akan hidup, mereka akan menyebar ke segala penjuru di daratan baru, dan kisah Atlantis akan turun-temurun, kami akan kembali ke masa lalu”. Menarik pelajaran, Lumba-lumba pernah memberitahu kami hari “kiamat” akan tiba, kami tahu saat-saat tersebut semakin dekat, sebab telah dua pekan tidak bertemu lumba-lumba. Mereka memberitahu saat kami akan pergi ke sebuah tempat yang tenang, dan menjaga bola kristal, lumba-lumba memberitahu kami dapat pergi dengan aman ke barat.

Banyak orang meninggalkan Atlantis mencari daratan baru. Sebagian pergi sampai ke Mesir, ada juga menjelang “kiamat” meninggalkan Atlantis dengan kapal perahu, ke daratan baru yang tidak terdapat di peta. Daratan-daratan ini bukan merupakan bagian dari peradaban kami, oleh karena itu tidak dalam perlindungan kami. Banyak yang merasa kecewa dan meninggalkan kami, aktif mencari lingkungan yang maju dan aman. Oleh karenanya, Atlantis nyaris tidak ada pendatang. Namun, setelah perjalanan segelintir orang hingga ke daratan yang “aneh”, mereka kembali dengan selamat. Dan keadaan negerinya paling tidak telah memberi tahu kami pengetahuan tentang kehidupan di luar Atlantis.

Saya memilih tetap tinggal, memastikan kristal energi tidak mengalami kerusakan apa pun, hingga akhir. Kristal selalu menyuplai energi ke kota. Saat beberapa pekan terakhir, kristal ditutup oleh pelindung transparan yang dibuat dari bahan khusus. Mungkin suatu saat nanti, ia akan ditemukan, dan digunakan sekali lagi untuk maksud baik. Saat kristal ditemukan, ia akan membuktikan peradaban Atlantis, sekaligus menyingkap misteri lain yang tak terungkap selama beberapa abad.

Saya masih tetap ingat hari yang terpanjang, hari terakhir, detik terakhir, bumi kandas, gempa bumi, letusan gunung berapi, bencana kebakaran. Lempeng bumi saling bertabrakan dengan keras. Bumi sedang mengalami kehancuran, orang-orang di dalam atap lengkung bangunan kristal bersikap menyambut saat kedatangannya. Jiwa saya sangat tenang. Sebuah gedung berguncang keras. Saya ditarik seseorang ke atas tembok, kami saling berpelukan. Saya berharap bisa segera mati. Di langit asap tebal bergulung-gulung, saya melihat lahar bumi menyembur, kobaran api merah mewarnai langit. Ruang dalam rumah penuh dengan asap, kami sangat sesak. Lalu saya pingsan, selanjutnya, saya ingat roh saya terbang ke arah terang. Saya memandang ke bawah dan terlihat daratan sedang tenggelam. Air laut bergelora, menelan segalanya. Orang-orang lari ke segala penjuru, jika tidak ditelan air dahsyat pasti jatuh ke dalam kawah api. Saya mendengar dengan jelas suara jeritan. Bumi seperti sebuah cerek air raksasa yang mendidih, bagai seekor binatang buas yang kelaparan, menggigit dan menelan semua buruannya. Air laut telah menenggelamkan daratan.

Sumber Kehancuran
Lewat ingatan Inggrid Benette, diketahui tingkat perkembangan teknologi bangsa Atlantis, berbeda sekali dengan peradaban kita sekarang, bahkan pengalamannya akan materiil berbeda dengan ilmu pengetahuan modern, sebaliknya mirip dengan ilmu pengetahuan Tiongkok kuno, berkembang dengan cara yang lain. Peradaban seperti ini jauh melampaui peradaban sekarang. Mendengarnya saja seperti membaca novel fiktif. Bandingkan dengan masa kini, kemampuan jiwa bangsa Atlantis sangat diperhatikan, bahkan mempunyai kemampuan supernormal, mampu berkomunikasi dengan hewan, yang diperhatikan orang sekarang adalah pintar dan berbakat, dicekoki berbagai pengetahuan, namun mengabaikan kekuatan dalam.

Bangsa Atlantis mementingkan “inteligensi jiwa” dan “tubuh” untuk mengembangkan seluruh potensi terpendam pada tubuh manusia, hal ini membuat peradaban mereka bisa berkembang pesat dalam jangka panjang dan penyebab utama tidak menimbulkan gejala ketidakseimbangan. Mengenai punahnya peradaban Atlantis, layak direnungkan orang sekarang. Plato menggambarkan kehancuran Atlantis dalam dialognya sebagai berikut:

“Hukum yang diterapkan Dewa Laut membuat rakyat Atlantis hidup bahagia, keadilan Dewa Laut mendapat penghormatan tinggi dari seluruh dunia, peraturan hukum diukir di sebuah tiang tembaga oleh raja-raja masa sebelumnya, tiang tembaga diletakkan di tengah di dalam pulau kuil Dewa Laut. Namun masyarakat Atlantis mulai bejat, mereka yang pernah memuja dewa palsu menjadi serakah, maunya hidup enak dan menolak kerja dengan hidup berfoya-foya dan serba mewah.”

Plato yang acap kali sedih terhadap sifat manusia mengatakan:
“Pikiran sekilas yang suci murni perlahan kehilangan warnanya, dan diselimuti oleh gelora nafsu iblis, maka orang-orang Atlantis yang layak menikmati keberuntungan besar itu mulai melakukan perbuatan tak senonoh, orang yang arif dapat melihat akhlak bangsa Atlantis yang makin hari makin merosot, kebajikan mereka yang alamiah perlahan-lahan hilang, tapi orang-orang awam yang buta itu malah dirasuki nafsu, tak dapat membedakan benar atau salah, masih tetap gembira, dikiranya semua atas karunia Tuhan.”

Hancurnya peradaban disebabkan oleh segelintir manusia, banyak yang tahu sebabnya, akan tetapi sebagian besar orang mengabaikannya, maka timbul kelongsoran besar, dalam akhlak dan tidak dapat tertolong. Maka, sejumlah kecil orang berbuat kesalahan tidak begitu menakutkan, yang menakutkan adalah ketika sebagian besar orang “mengabaikan kesalahan”, hingga “membiarkan perubahan” selanjutnya diam-diam “menyetujui kejahatan”, tidak dapat membedakan benar dan salah, kabar terhadap kesalahan mengakibatkan kesenjangan sifat manusia, moral masyarakat merosot dahsyat, mendorong peradaban ke jalan buntu.

Kita sebagai orang modern, dapatlah menjadikan sejarah sebagai cermin pelajaran, merenungi kembali ilmu yang kita kembangkan, yang mengenal kehidupan hanya berdasarkan pengenalan yang objektif terhadap dunia materi yang nyata, dan mengabaikan hakikat kehidupan dalam jiwa. Makna kehidupan sejati, berangsur menjadi bisnis memenuhi nafsu materiil, seperti ilmuwan Atlantis, segelintir orang tunduk pada keserakahan, tidak mempertahankan kebenaran, demi kekuasaan dan kemuliaan, mengembangkan teknologi yang salah, merusak lingkungan hidup. Apakah kita sedang berbuat kesalahan yang sama?

Atlantis - Kota yang Hilang, Ditemukan Google Earth?
Sesuaikan ukuran huruf: Perkecil font Perbesar font
foto berita artikel Atlantis merupakan kota hilang yang paling terkenal dan paling diburu sepanjang sejarah. Cerita Plato mengenai Atlantis sebagai sebuah kota yang hilang ke dasar laut, hingga kini rupanya tetap menjadi cerita yang menarik untuk diselidiki. Seiring dengan kemajuan teknologi, banyak orang yang mulai berlomba-lomba menguak misteri hilangnya Atlantis yang diperkirakan tenggelam ke dasar laut akibat letusan gunung dan gempa bumi di Samudera Atlantik. Mulai dari penerapan teknologi sonar hingga satelit pun dilibatkan dalam pencarian sisa kota Atlantis yang disebut Plato sebagai kota dengan kebudayaan tinggi dari masa lalu ini.

Salah satu upaya pencarian yang menghebohkan baru-baru ini dilakukan oleh seorang Inggris mempergunakan Google Earth.Seperti yang dilansir tabloid 'The Sun', dengan mempergunakan Google Earth, seorang warga mengklaim telah menemukan bukti-bukti yang menarik tentang keberadaan sisa-sisa kota Atlantis di dasar laut. Bukti yang dia maksudkan adalah deretan garis-garis yang menurut perkiraan adalah sisa-sisa tembok yang bersaling-silang seukuran  Inggris. Menurutnya, sangat tidak mungkin jika deretan 'garis-garis' pada 3,5 mil dibawah permukaan Samudra Atlantik  tersebut hanyalah sebuah kebetulan dari alam. Karena makhluk secerdas apapun selain manusia, tidak mungkin begitu saja membuat deretan 'garis-garis' tembok seperti itu di dasar laut. Titik penemuan tersebut muncul di sepanjang 620 mil barat Maroko di dekat kepulauan Canary. Hal ini sangat mirip dengan gambaran Plato dalam tulisannya mengenai Atlantis, sebuah kota dengan peradaban tinggi yang lenyap ke dalam laut karena gempa yang dahsyat pada tahun 9700 SM.

Selama ini banyak ahli berpendapat Atlantis berada di sekitar Samudera Atlantik, dengan bentangan kemungkinan mulai dari 'Segitiga Bermuda' hingga Laut Mediterania di dekat Yunani dan Italia. Klaim terhadap penemuan Atlantis menggunakan Google Earth ini sebenarnya bukan untuk pertama kalinya, tercatat telah banyak ilmuwan dan arkeolog yang melakukan studi pencarian situs Atlantis selama ini. Salah satunya adalah Robert Sarmast. Robert Sarmast mengatakan sonar yang dipakai menyisir dasar laut 80 kilometer tenggara Cyprus telah menandai adanya dinding-dinding buatan manusia, salah satunya sepanjang 3 kilometer, dan parit-parit pada kedalaman 1.500 meter. Hal ini sangat mirip dengan deskripsi Plato mengenai kota Atlantis.
Menanggapi penemuan tersebut, pihak Google memberikan pernyataan, "Memang benar sejak diluncurkannya Google Earth, banyak tempat-tempat mengagumkan yang selama ini tersembunyi, berhasil ditemukan. Diantaranya adalah penemuan sebuah hutan di Mozambik berisi berbagai spesies yang belum diketahui jenisnya, juga penemuan terumbu karang di pantai Australia dan sisa peninggalan sebuah villa Romawi kuno". Namun mengenai penemuan Atlantis ini, pihak Google menyatakan bahwa yang terlihat tersebut merupakan Bathymetric (seafloor terrain) data yang dikumpulkan dari kapal yang sering menggunakan sonar untuk mengambil pengukuran yang kedalaman laut. Jadi baris tersebut yang mencerminkan jalan perahu karena mengumpulkan data," ujar Google

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Untuk kebaikan blog ini komentar anda aku tunggu